Memoar Pdt. Markus ini saya memulai dari keberangkatannya dari Sorong ke Inanwatan (hal. 113). Halaman-halaman sebelumnya adalah tentang kisah Hidup Pdt. Markus sejak lahir sampai melakukan perjalanan ke Indonesia
Dari Sorong ke Inanwatan adalah etape terakhir kami.
Kapal harus berlabuh 3 mil laut dari pantai; pantai selatan 'Vogelkop' (Kepala Burung) sulit ditentukan, karena daratan di sini mengalami pendangkalan - sebagian karena sabuk hutan bakau yang lebat. Sekoci dengan muatan empat perahu dayung harus naik lagi 3 mil ke sebuah muara untuk mencapai Inanwatan.
Penerimaannya hangat dan semua orang Belanda hadir di dermaga. Guru-guru Ambon dan 'gerombolan' anak sekolah menyambut kami dengan lagu Wilhelmus (Lagu kebangsaan Belanda) dan Mazmur.
Ini akan menjadi rumah baru kami - pikir kami.
Kami ditempatkan di Rumah Dokter, tempat tinggal Perawat sekarang. Pendahulu saya dan istrinya akan mengurus makanan. Mereka tinggal di rumah yang dibangun Pendeta Wettstein pada sekita tahun 1918 Itu terbuat dari papan kayu besi, yang bahkan tidak bisa dimakan rayap. Gereja besar, yang ia bangun dari bahan yang sama, terbakar dalam perang.
Mieneke dan saya 'sibuk sekali' dengan beradaptasi dan melakukan kunjungan-kunjungan. Administrasinya sangat teliti, tetapi - menurut saya - rumit secara tidak perlu. Bahkan pabrik pakaian jadi di Hamburg tidak memakan waktu sebanyak yang digunakan di sini. Bahkan administrasi keuangan dari 10 jemaat yang sudah dilembagakan dikerjakan oleh rekan saya.
Jadwal harian juga kurang saya sukai: 06.30 bangun, 07.30 sarapan dan 12.30 makan siang, di antaranya ada jeda 'kakao' lagi. Kami terbiasa dengan tekanan kerja yang berbeda dan berniat meluangkan lebih banyak waktu, juga untuk mempelajari adat dan keyakinan keagamaan. Semuanya disajikan kepada kami dengan sangat sempurna, tetapi 'Pertanian' - yang tidak gerejawi - juga memperlihatkan sisi lain dari keadaan di Inanwatan dan para Pekerja yang melayani Gereja.
Rekan saya ingin segera mengajak saya berkeliling .Desa itu - ± 1.000 penduduk - terletak di sebuah tanjung di rawa. Dia telah memberi tugas kepada sebuah jemaat untuk menjemput kami di tepi barat tanjung, di sebuah tempat yang dengan sedikit keterampilan bisa dicapai dengan kaki tetap kering. Saya tidak keberatan, dan menikmati jalan-jalan kecil serta perjalanan melintasi Jembatan Kayu dan kemudian perjalanan melintasi sungai. Bagi seorang pencinta alam, ini adalah sebuah kegembiraan - variasi besar dalam warna dan bentuk flora dan fauna, yang dapat saya amati dengan tenang sambil duduk di haluan. Yang mengecewakan adalah pertanyaan agak ketus dari rekan saya: 'Apa yang kamu lihat, semuanya hijau'.
Saya tidak akan banyak membahas detailnya. Di mana-mana penyambutannya terorganisir dengan sempurna, sambutan resmi dengan lagu Wilhelmus dan nyanyian mazmur - dinyanyikan secara paduan suara.
Di mana-mana satu atau kadang 2 kebaktian gereja dengan khotbah dari rekan saya - tidak dapat dimengerti oleh angkatan 1928 dan yang lebih muda - karena dari tahun 1943 - 1947 hampir tidak ada sekolah dan sekolah pertama di daerah ini baru dimulai pada tahun 1924. Namun Injil diterima dengan baik di sini, kaum muda yang lebih terpelajar bekerja sebagai penginjil, dan jemaat-jemaat - total 12 - bersama dengan pos-pos penginjilan mengumpulkan f 6.000,- (Florin/Gulden Belanda, mata uang saat itu) pada tahun 1950. Itu jumlah yang banyak untuk ± 3.000 orang dewasa yang tidak memiliki ekspor.
Di setiap desa juga ada pembicaraan dengan anggota Majelis Gereja dan para kepala kampung. Dari para guru, yang menjadi pemimpin jemaat dan menerima gaji dari Pemerintah, Anda bisa mendapatkan informasi tentang keadaan hidup, kondisi kesehatan, dll.
Inspeksi sekolah menempati tempat yang besar. Kali ini saya membatasi diri hanya pada observasi. Jumlah murid di 3 kelas, yang diizinkan Pemerintah kepada kami, menunjukkan struktur piramida, di mana sebagian besar berada di kelas bawah. Dalam kasus terbaik pun persentasenya 55-35-10! Pendahulu saya memeriksa inventaris, administrasi, dan membiarkan guru menentukan apa yang telah dilakukannya.
Selain apa yang telah dihafalkan anak-anak secara klasikal di luar kepala, tidak diperiksa apakah mereka memahaminya. Tidak ada bedanya dengan sebuah sekolah Al-Quran kecil dalam hal membaca. Selain itu, dari penyelidikan ternyata dari seluruh korps guru hanya 5 yang memiliki pendidikan, salah satunya satu-satunya orang Papua, yang pada bulan Mei telah memperoleh ijazah pada kursus guru.
Banyak desa dalam keadaan buruk, drainase dan tanggul musim panas tidak ada, sehingga saat banjir badai hampir semua desa menderita banjir.
Malaria memang endemis, dan karena kekurangan obat-obatan merajalelalah anemia (kurang darah) dan disentri, dan orang Jepang juga membawa disentri Amoeba. Akibatnya penduduk kurang aktif. Saya punya banyak hal yang harus saya laporkan kepada Mieneke, dalam kesadaran betapa besar tanggung jawab kami dan betapa sedikitnya bantuan yang diberikan oleh Binnenlands Bestuur (Pemerintahan Dalam Negeri Hindia Belanda). Para pegawai dan rekan saya memerintah, mengelola administrasi, tetapi tidak mengambil satu pun inisiatif, padahal ada banyak kemungkinan.
Sungai-sungai dan anak sungainya penuh dengan ikan, hutan penuh babi hutan, ayam hutan, kasuari, dan ribuan km² pohon sagu, pohon kelapa, dan kayu besi. Tebang habis tidak mungkin, karena apa yang berdiri lebih dari 500 m dari tepi sungai tidak dapat diangkut dan dihanyutkan pun juga tidak, karena berat jenis kayu besi adalah 1,3, sehingga pohon yang tidak terlalu besar saja sudah seberat 30-40 ton!
Hewan kecil dengan pengecualian seekor anak babi, yang tidak jarang disusui oleh istri seorang pemburu bersama dengan anaknya yang bungsu, atau seekor kasuari muda, di sini pun Pemerintahan tidak mengambil inisiatif.
Bekerja juga sulit, karena di wilayah kecil yang kami cakup, dituturkan 4 bahasa dan itu untuk ± 45.000 orang. Kami terkejut secara tidak menyenangkan oleh keramahan yang merendahkan dari sebagian besar pegawai dan orang Indonesia terhadap penduduk asli. Kadang-kadang yang lebih menjengkelkan lagi adalah penghormatan yang pura-pura terhadap 'orang liar yang mulia' ini seperti J.S. Rousseau (filsuf Prancis) menjuluki mereka.
Lebih parah lagi menurut kami, bahwa orang-orang yang diutus oleh gereja pun berpikir dan bertindak dengan cara yang sama. Beberapa mencari penyebabnya dalam pengalaman selama dan setelah Perang Dunia ke-2. Tetapi Dr. N. Adriani sudah menulis pada tahun 1922: 'Di kalangan orang Eropa di Koloni Hindia Timur kita, tidak menganggap serius penduduk Pribumi adalah fenomena yang sangat umum' (dalam "Het Animistisch Heidendom als Godsdienst" / "Kekafiran Animisme sebagai Agama"). 'Keramahan yang merendahkan' itu adalah ciri khas orang 'non-Papua'.
Sudah di Hollandia (sekarang Jayapura) kami mendengar pelanggaran hak asasi manusia yang terang-terangan, dan juga kemudian ketika kami sudah bekerja bertahun-tahun dan dipercaya oleh penduduk asli. Itu terutama menyangkut mereka yang lahir di 'Hindia Kita' (istilah Belanda untuk Hindia Belanda).
Yang juga menyinggung kami berdua adalah pendekatan yang kaku - gaya abad ke-19 - terhadap pertanyaan etis dalam hubungannya dengan budaya asli orang Papua. Sebelumnya sudah pernah timbul konflik antara Konferensi para misionaris dan Prof. Dr. Held, yang dalam bukunya 'Papua's van Waropen' (Orang Papua dari Waropen) melukiskan gambaran yang sangat jelas tentang budaya lama yang asli, yang saat itu belum dapat dipengaruhi.
Dengan 'Drie formulieren van Enigheid' (Tiga Formulir Kesatuan: tiga dokumen pengakuan iman gereja-gereja Reformasi Belanda) dan 'Institutie' (Institutio Christianae Religionis, buku ajaran Calvin) dari Calvin Anda tidak bisa berbuat apa-apa dalam sebuah Budaya Neolitikum (budaya Zaman Batu Baru). Wawasan itu menjadi jelas, setelah perjalanan dinas pertama dan -( Dalam laporan tahunan DVtE (Dienst voor Toezicht en Evangelisatie = Dinas Pengawasan dan Penginjilan) disebutkan ada 2) satu-satunya ini, yang saya lakukan bersama pendahulu saya, dalam beberapa bulan berikutnya.
Itu dapat saya dokumentasikan selama cuti saya pada tahun 1955 dengan literatur, yang terbit antara 1926 dan 1949, dan yang tidak diteruskan kepada kami oleh 'Oegstgeest' (pusat pelatihan misionaris Belanda) dan 'Tropeninstituut' (Institut Tropis, lembaga penelitian kolonial Belanda).
Sementara itu secara tidak resmi diketahui, bahwa Pemerintah akan menetap di jantung 'Vogelkop' (Kepala Burung, sebutan untuk Papua Barat). Dalam hal itu Mieneke sebagai dokter pemerintah harus mengikuti. Kami memperingatkan DVtE (Dinas Pengawasan dan Penginjilan) dan bersama-sama menjelajahi wilayah barat. Kami menyewa sebuah prauw (perahu tradisional) dan menatanya seperti rumah. Perahu semacam itu terdiri dari batang pohon yang dilubangi dengan 2 semang, tempat para pendayung duduk. Seorang juru mudi duduk di buritan. Ada sebuah rumah kecil dengan platform untuk tidur dan perapian untuk memasak. Bagi Mieneke ada satu masalah: sanitair (toilet) tidak ada. Kami membawa bahan makanan, pakaian dan peralatan masak, majalah dan mesin tik, sehingga saya bisa langsung mengerjakan laporan, dan menulis surat dengan tembusannya (salinan karbon).
Karena laut yang kasar saat kedatangan kami, kami hanya membawa yang paling perlu, ketika kami mendarat di Inanwatan. Peti-peti berat berisi mebel dan buku akan dibongkar, segera setelah kapal kembali dari Merauke, 3 - 4 minggu kemudian.
Justru prospek bahwa kami harus pindah, beberapa minggu kemudian membuat mebel-mebel itu harus dikemas ulang. Mereka kemudian harus menempuh 40 km naik turun gunung ke Ajamaru ke mana mereka diangkut dengan tenaga manusia.




Posting Komentar