Bookmark

Memoar Pdt. Markus dari Teminabuan#11

139-140
Gambar Dari Keabadian hingga Amin oleh Pdt. Markus
Tahun 1951
139
Lanjutan isi Laporan Perjalanan Dinas bulan Maret-April 1951

Dengan banyak bujukan akhirnya mereka mau berangkat juga. Namun sekarang mereka menganggap kemalangan berikutnya sebagai pertanda buruk. Dalam perjalanan pulang, salah seorang dari mereka menginjak akar pohon yang tajam dekat pohon yang dianggap keramat itu. Anak-anak dan para orang tua pun berbisik-bisik, “Lihat, para pendatang kulit putih itu ternyata juga tidak tahu segalanya.”

27 Maret

Hari itu kami kembali membuka buku-buku pelajaran.

Sore harinya Guru J. Solisa datang. Ia menyampaikan terima kasih panjang lebar atas bantuan yang telah diberikan kepada istrinya. Ketika ditanya mengapa daerah antara Waromgai-Kais dan Kampong Baru mengalami kemunduran, ia menjelaskan bahwa banyak penyakit serta tingginya angka kematian bayi dan anak-anak menjadi penyebab utama. Ia juga merasa perlu dilakukan penataan ulang wilayah, bahkan jika itu berarti sebagian penduduk harus dipindahkan.

Ia berencana memeriksa sekolah di Mogetemin.

28 Maret

Hari dimulai dengan sakit kepala, nyeri punggung, dan demam. Ternyata saya terserang malaria lagi. Untungnya serangan ini tidak terlalu parah.

Malamnya sebuah perahu datang dari Bagaraga. Perahu besar dari Konda harus kembali, dan di Mogetemin memang tidak tersedia perahu lain.

29 Maret

Walaupun belum benar-benar pulih, kami tetap berangkat. Cuaca sangat panas, baik di rumah maupun di perahu. Kasur angin kami sudah rusak, sedangkan dipan bambu anyaman di rumah penginjil ternyata tidak lebih nyaman daripada tidur di perahu.

30 Maret

Pagi-pagi sekali kami kembali menyusuri Sungai Waromgai, mendayung menuju Waromgai dan Bagaraga. Kami tiba menjelang malam.

Waromgai terlihat sangat terbengkalai sehingga kami memilih singgah lebih dulu di Bagaraga yang lebih kecil. Kondisi saya sudah membaik, walaupun kaki masih terasa agak lemah.

31 Maret

Hari istirahat. Saya banyak membaca. “Doc” sangat sibuk bekerja: pagi di B., malam di W. Rutinitas itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

1 April

Setelah kebaktian gereja dan pelayanan poliklinik, kami pergi ke Waromgai. Di sana kami disambut meriah sebagai pendeta dan istrinya. Hari itu terasa menyenangkan karena kami menerima surat dari Belanda.

2 April

Hari ini kami memeriksa sekolah. Setelah penginjil lama diganti - orangnya malas dan kurang bersemangat - keadaan mulai membaik. Sekarang ada enam belas murid.

Kampung sebenarnya bisa menjadi lebih rapi, tetapi sebentar lagi Asisten Pemerintah akan datang dan kemungkinan besar akan memberikan penilaian keras. Ia terkenal sangat terus terang dalam menyampaikan kritik.

Penginjil di Bagaraga, A. Dahar, berusia sekitar empat puluh tahun. Karena pengetahuannya luas dan ia memahami adat setempat dengan baik, saya membebaskannya dari tugas rutin agar ia bisa mengawasi para penginjil muda dan pekerjaan mereka. Tugas itu cukup berat dan mengharuskannya sering berjalan jauh, bahkan lebih jauh daripada saya.

Ia juga mengeluhkan Asisten Pemerintah di Aitinjo. Saat penginjil itu sedang tidak berada di kampung, perahunya dibawa paksa untuk pergi ke Inanwatan. Lebih dari sebulan kemudian, perahu itu ditemukan kembali di Kampung Baru dalam keadaan rusak parah.

A. Dahar sangat dihormati masyarakat. Selain bahasa Melayu, ia juga menguasai dua bahasa daerah. Ia pernah bekerja dalam misi pertama yang dipimpin Pendeta Wetstein.

Untuk tiga kampung - Waromgai, Bagaraga, dan Khowa - diperkenalkan metode baru belajar menulis. Para penginjil harus lebih dulu mempersiapkan diri karena mereka sendiri harus menuliskan contoh-contoh di papan tulis.

Sebelum malam tiba semua persiapan selesai, barang-barang dimuat kembali, dan ketika air surut kami pun berangkat. Dahar ikut bersama kami sebagai juru mudi karena ia mengenal jalur sungai dengan baik.

140

3 April

Hari itu kami mengadakan semacam “rapat perang” di atas perahu. Persediaan sagu habis, dan nasi yang tersisa hanya cukup untuk kami sendiri. Karena itu diputuskan untuk terlebih dahulu menokok sagu di hutan, lalu dengan memanfaatkan sisa air pasang berangkat menuju Khowa. Rencana itu pun dijalankan.

Saya dan istri tetap tinggal di perahu karena saya masih terlalu lemah untuk ikut bekerja. Beberapa jam kemudian para pendayung dan perawat kembali dengan tubuh penuh lumpur sambil membawa muatan sagu yang berat. Para pemburu pulang dengan tangan kosong. Untungnya kami masih bisa membeli ikan dari beberapa nelayan yang menangkap ikan tepat sebelum waktu makan malam.

Saat hari mulai gelap kami tiba di Khowa. Sungai di tempat itu hanya sekitar sepuluh meter lebarnya, dan ketika air surut hampir kering sama sekali. Rumah-rumah berdiri di lereng curam di atas tiang-tiang tinggi. Pemandangannya sangat indah, seluruh “jalan utama” diterangi cahaya obor kemerahan.

Sesudah makan kami langsung tidur, juga karena minyak tanah hampir habis.

Saya merasa kondisi tubuh paling nyaman jika hanya berbaring. Di tempat seperti ini disiplin diri sangat diperlukan. Pakaian harus tetap rapi dan rambut harus tersisir baik. Penduduk akan lebih menghormati tamu yang tampil teratur dan menjaga wibawa. Banyak orang Eropa yang bepergian dari kampung ke kampung tidak menyadari hal itu. Mereka mungkin ditakuti atau dituruti karena jabatan mereka, tetapi belum tentu dihormati.

4 April

Hari ini kami membuka poliklinik dan memeriksa sekolah. Ada 42 anak yang bersekolah di sini, walaupun seperti di tempat lain, sarana belajar hampir tidak ada. Penginjil di kampung ini membutuhkan seorang pembantu.

Kampung ini tergolong baru. Dua tahun sebelumnya penduduk pindahan dari Argasi dan daerah pedalaman Wersar menetap di sini. Kini ada 21 orang dewasa yang mengikuti pelajaran katekisasi, beberapa di antaranya sudah belajar selama setahun dan mulai meminta untuk dibaptis.

Sore harinya guru dari Wersar datang membawa kabar bahwa di Teminabuan belum ada perkembangan mengenai V.V.S. Setelah berdiskusi, diputuskan bahwa kami akan segera berangkat ke Teminabuan dengan kesempatan transportasi pertama yang tersedia.

5 April

Kami berangkat menuju daerah hilir Wersar. Berjalan kaki masih terasa berat bagi saya. Malam sebelumnya saya hampir tidak tidur karena istri saya kembali terserang disentri.

Perjalanan dimulai pukul tujuh pagi melewati jaringan sungai kecil dan bukit-bukit yang ditumbuhi semak. Di tengah perjalanan kami berhenti setengah jam untuk sarapan dan beristirahat.

Walaupun jalannya sudah dibersihkan selebar dua meter dan hujan tidak turun, saya tetap berkeringat deras. Karena kurang tidur saya menjadi sangat mengantuk. Sekitar pukul sebelas kami tiba di Wersar, mandi, lalu beristirahat hingga waktu makan.

Guru di sana juga tampak lelah dan sesak napas, sementara saya sendiri merasa kaki terlalu panjang untuk perjalanan seperti itu. Dengan susah payah saya berhasil mendapatkan perahu dan pendayung. Orang-orang di sini tidak terlalu suka membantu, dan sebagai sebuah komunitas, kampung ini tidak memberikan kesan yang baik.

Sore hari kami melanjutkan perjalanan ke Teminabuan dan menghadiri sidang Dewan Gereja. Ada pengaduan terhadap seorang anggota dewan karena praktik poligami.

Kasusnya ternyata cukup rumit. Lelaki itu sudah menikah sejak tahun 1925 sebelum menjadi Kristen. Atas perintah misionaris terakhir sebelum perang, ketika ia dibaptis pada tahun 1929 ia diminta meninggalkan salah satu istrinya - sesuatu yang menurut saya kurang manusiawi.

Dengan istri lainnya ia menikah secara gerejawi. Mengenai istri kedua, karena mereka tidak pernah memiliki anak, ia merasa tetap berkewajiban menafkahinya. Namun mereka tidak lagi tinggal serumah.

Posting Komentar

Posting Komentar