
Masalah ternyata terus bertambah. Pemerintah mulai melakukan penghematan anggaran. Jumlah penerbangan ke Ayamaru dikurangi menjadi hanya satu kali sebulan. Akibatnya, setiap bulan hanya tersedia kapasitas angkut sekitar 2.500 kilogram, itu pun harus dibagi dengan penumpang yang ikut terbang. Berat badan para penumpang otomatis mengurangi kapasitas barang yang bisa dibawa.
Kepala pemerintahan setempat (H.P.B.) kemudian memutuskan membangun jalan menuju tempat kapal dapat berlabuh. Dari sana, sebuah jeep atau truk kecil berbobot satu setengah ton akan dipakai untuk mengangkut barang ke Mefkhajim.
Namun rencana itu dibuat tanpa konsultasi dengan kepala dinas pertanian, kesehatan, maupun pendidikan. Dinas pekerjaan umum dan pengairan juga sama sekali tidak dilibatkan.
Begitu saja dianggap bahwa para kepala adat pasti akan setuju. Padahal kenyataannya tidak ada alat berat sama sekali. Jalan harus dibuka secara manual menggunakan cangkul dan sekop seadanya.
Rute jalan direncanakan melewati kawasan karst sepanjang sekitar 30 kilometer, lalu menerobos rawa tanah liat sejauh 15 kilometer lagi. Sebuah jeep seharusnya melakukan sekitar 15 perjalanan setiap bulan untuk mengangkut total 2.500 kilogram barang. Namun sejak perjalanan pertama sudah jelas bahwa hal itu hampir mustahil dilakukan saat musim hujan. Di daerah itu hujan turun rata-rata sepuluh hari setiap bulan, dan ketika hujan turun, tanjakan berubah menjadi licin seperti sabun. Kemiringan 10-15 derajat saja sudah hampir tidak bisa dilalui.
Keadaan makin sulit karena kapal yang tersedia hanyalah kapal tunda bekas milik Angkatan Darat Amerika Serikat, yang sebelumnya dipakai di Sungai Mississippi. Kapal itu cocok untuk perairan tenang, tetapi terlalu lambat untuk kondisi di sini.
Sungai Kais sendiri menampung aliran air dari wilayah lebih dari 400 kilometer persegi dengan curah hujan sekitar lima setengah meter per tahun-bandingkan dengan Belanda yang hanya sekitar 0,75 meter per tahun. Saat banjir besar, kapal-kapal sering tidak bisa beroperasi.
Selain itu, kapal harus menempuh perjalanan laut sejauh sekitar 250 kilometer, terutama pada bulan Mei sampai September, mengikuti pantai rendah Samudra Hindia yang cukup berbahaya.
Beban masyarakat akibat “pelayanan para pejabat” juga makin berat. Mereka tidak terbiasa dengan pemerintahan terpusat dan tidak pernah benar-benar mengakuinya. Banyak penduduk kembali masuk ke hutan sehingga kampung-kampung dan sekolah-sekolah menjadi kosong.
Saat melakukan perjalanan keliling, Mieneke masih bisa membantu banyak pasien di kebun-kebun dan tempat pendaratan perahu, bahkan di kampung-kampung terpencil jauh dari pusat pemerintahan. Namun para “penguasa” setempat mulai kehilangan wibawa di mata masyarakat.
Pada percobaan pertama menarik sebuah jeep dengan rakit menyeberangi sungai, kapal tunda kandas di gundukan pasir. Kapal itu baru bisa terapung lagi beberapa hari kemudian setelah hujan deras turun.
Di kapal tunda itu juga ikut seorang petugas pos dan telegraf baru bersama keluarganya. Ketika tiba di Pelabuhan Komara, ia melihat Kepala Pemerintahan datang menjemput jeepnya bersama hampir seratus penduduk asli yang nyaris telanjang. Ia langsung menolak turun dari kapal. Istrinya bahkan terdengar berkata dengan putus asa, “Oh, andai saja aku bisa menjadi laki-laki!”
Setelah dibujuk panjang lebar, rombongan itu akhirnya mau melanjutkan perjalanan. Tetapi masalah terus bermunculan. Penduduk memboikot “pelayanan pemerintah”, kampung-kampung menjadi kosong, dan banyak keluarga membawa anak-anak mereka pergi masuk ke wilayah adat masing-masing.
Semua orang yang bekerja di daerah itu-baik pegawai pemerintah maupun penduduk setempat-harus ikut menghadiri acara penyambutan pejabat baru. Karena datang kepala pemerintahan yang baru, seluruh proses perkenalan dan penyambutan kembali memakan banyak waktu.
Minuman keras mengalir cukup bebas dalam acara itu-hal yang dianggap biasa-tetapi untungnya kepala juru tulis masih mampu menahan diri.
Suatu hari muncul lagi masalah medis baru.
Istri seorang tukang kayu yang sedang membangun rumah sakit sedang hamil tua. Namun para perempuan tua dari daerah Wandammen-yang biasanya membantu persalinan-tidak sanggup menolongnya. Posisi bayi sungsang dan proses kelahiran berjalan sangat sulit, sehingga Mieneke dipanggil untuk membantu.
Masalahnya, gubuk tempat perempuan itu tinggal sangat kecil, hanya sekitar satu setengah meter tingginya, sehingga Mieneke tidak mungkin bekerja di sana. Walaupun sudah diminta dan dipaksa, keluarga tetap tidak mau memindahkan perempuan itu ke ruang perawatan.
Aku lalu berbicara kepada suaminya dan bertanya:
“Menurut adat kalian, siapa kepala keluarga?”
“Tentu saja saya,” jawabnya.
Aku kemudian berkata tegas, sambil mengutip prinsip dari Perjanjian Lama:
“Kalau begitu lakukan tugasmu sebagai kepala keluarga. Jangan biarkan dirimu ditertawakan oleh laki-laki lain.”
Percakapan itu berlangsung di depan gubuk mereka. Syukurlah, sang suami akhirnya setuju. Setengah jam kemudian, perempuan itu sudah dibawa ke kamar tidur kami dan dibaringkan di salah satu tempat tidur.
Persalinannya sangat berat. Aku membantu dengan memberikan anestesi, sementara Mieneke menangani ibunya. Ketika bayi akhirnya lahir, aku harus mencelupkan bayi itu bergantian ke air hangat dan dingin sampai ia mulai menangis. Saat itu aku berlutut di lantai semen, sedangkan Mieneke sibuk merawat sang ibu yang kehilangan banyak darah.
Keesokan harinya bayi itu tidak mau minum. Selama tiga hari tiga malam bayi harus disuapi sedikit demi sedikit menggunakan sendok. Akhirnya kondisinya membaik.
Kami melakukan semuanya bergantian agar tetap bisa tidur walaupun sedikit. Selama beberapa waktu kamar tidur kami berubah menjadi ruang bersalin. Setelah seminggu penuh bekerja keras, kami benar-benar kelelahan, tetapi pekerjaan sehari-hari tetap harus berjalan.
Pembangunan rumah sakit terus berlangsung dengan baik. Namun para tukang kayu memiliki kebiasaan kebersihan yang berbeda dengan penduduk asli setempat.
Masyarakat pesisir biasa menggunakan sungai dan anak sungai sebagai tempat mandi, mencuci, sekaligus saluran pembuangan-seperti yang umum terjadi di banyak wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Sebaliknya, masyarakat pegunungan menolak melakukan hal seperti itu. Mereka percaya bahwa roh orang mati tinggal di gua-gua dan mata air, sehingga tempat-tempat tersebut dianggap suci dan tidak boleh dikotori.
Belum selesai kami menangani persalinan itu, Mieneke kembali menghadapi wabah disentri amoeba. Dalam waktu singkat, ada sekitar 40 pasien di ruang perawatan darurat kami yang sederhana. Tidak lama kemudian, kami sendiri dan orang-orang Eropa lainnya juga ikut tertular penyakit itu.
Pengobatan dengan emetine sebenarnya mengharuskan pasien banyak beristirahat. Namun itu hampir mustahil dilakukan ketika kami harus memimpin pekerjaan pembangunan di daerah terpencil dan terisolasi, dengan akses transportasi yang sangat terbatas.
Karena itu, setelah menyelesaikan pekerjaan paling mendesak, kami biasanya tidur lebih awal-bahkan sebelum pukul enam pagi setelah mendapat suntikan obat. Esok harinya pekerjaan darurat harus dimulai lagi dari awal.
Di bawah kepemimpinan Guru Parera yang rajin dan dukungan Asisten Pemerintahan Kesaulya, pembangunan kompleks sekolah pelatihan pemuda juga berjalan maju.
Bangunan itu harus selesai sebelum 1 Agustus, hanya sekitar dua setengah bulan setelah dana tersedia. Untungnya kami mampu mendanai pekerjaan lebih dulu sehingga target waktu bisa tercapai.
Salah satu kesulitannya adalah tidak adanya kayu gergajian siap pakai. Semua balok penyangga harus dibelah langsung dari batang pohon, dan setiap papan dibuat dari setengah batang kayu.
Untuk menghemat biaya tenaga kerja, kami menggunakan kayu besi untuk balok utama penyangga, sedangkan papan biasa dibuat dari jenis kayu yang lebih lunak.
Sebagian besar bangunan yang didirikan saat itu ternyata masih berdiri hingga tahun 1989. Kayu yang digunakan sangat tahan terhadap rayap putih dan tidak mudah lapuk, bahkan tanpa bahan pengawet ataupun cat pelindung.
Namun, bekerja dengan tenaga Ambon juga tidak selalu mudah.
Sebagian dari mereka memiliki sikap anti-Belanda, terutama karena pemerintah di Den Haag tidak mengirim armada untuk membantu Republik Maluku Selatan. Mereka memandang Belanda sebagai negara yang sangat kuat-pandangan yang dibentuk oleh propaganda sebelum Perang Dunia II dan lagu-lagu patriotik yang diajarkan di sekolah-sekolah Hindia Belanda.
Selain itu, para misionaris sejak abad ke-19 sebenarnya sudah memperingatkan bahaya memakai tenaga yang kurang terlatih.
Kepercayaan lama juga masih sangat memengaruhi cara mereka memahami Alkitab. Misalnya, poligami masih dianggap dapat diterima selama seseorang dapat menunjuk contoh tokoh-tokoh dalam Alkitab seperti para bapa bangsa Israel dan raja-raja Israel. Di tengah banyaknya pekerjaan, persoalan seperti ini terus saja muncul.
Karena itu, seorang “guru sekaligus kepala sekolah jemaat” dari Mefkhajim harus segera dipindahkan. Semakin lama dibiarkan, semakin banyak orang berhenti datang ke kebaktian, dan keadaan sekolah pun makin memburuk.
Awalnya hanya beredar rumor bahwa kepala sekolah itu tidak hidup monogami. Rumor saja tentu belum cukup untuk mengambil tindakan. Namun suatu hari Inspektur Polisi memergoki orang tersebut bersama salah satu dari tiga perempuan simpanannya di hutan. Hubungan itu dilakukan tanpa sepengetahuan istrinya.
Menurut penulis, perilaku seperti itu tidak dapat diterima di sebuah sekolah Kristen, walaupun kasus perselingkuhan juga sering terjadi di Belanda.
Beberapa orang Ambon kemudian melakukan protes dan menulis kepada kepala pengawas sekolah umum yang kemudian melibatkan DVTE. Mereka menuduh bahwa penulis “tidak punya kebijaksanaan dalam menghadapi mereka”.
Akhirnya Guru Solisa yang sudah tua harus turun tangan memperbaiki keadaan. Ia berkhotbah dalam bahasa daerah Mey Brat, lalu mengulang inti khotbah itu dalam bahasa Melayu.
Pada bulan Juli mereka kembali melakukan perjalanan pelayanan, kali ini ke daerah Aifat. Setelah bagian ini, penulis mulai mengutip laporan perjalanan tersebut.


Posting Komentar