Bookmark

Memoar Pdt. Markus dari Teminabuan#14

146-151 Laporan Perjalanan 13 Juli 1951
Gambar Dari Keabadian hingga Amin oleh Pdt. Markus
Tahun 1951

Surat Laporan Perjalanan

No. 59/B - Ajamaru, 13 Juli 1951

“Kepada Pengurus yang terhormat,

Kemarin kami menerima telegram dari Konferensi, dan kami sangat berterima kasih atas dukungan itu. Sedikit dukungan sangat berarti bagi kami, karena pekerjaan di pedalaman Vogelkop semakin berat.

Sebelum itu, saya ingin melaporkan hasil peninjauan wilayah Aifat.

Saya sebelumnya sudah mengeluhkan masalah sepatu. Untuk perjalanan kali ini saya mencoba mengatasinya dengan memakai beberapa pasang sepatu milik istri saya, yang sudah dipotong dan disesuaikan di beberapa bagian. Namun kaki saya tetap melepuh, sehingga rencana perjalanan semula tidak bisa dijalankan sepenuhnya.

Dengan bantuan Asisten Pemerintahan, telah diatur agar para pengangkut barang bekerja dengan baik. Pada perjalanan sebelumnya kami memakai orang-orang dari Susemuh, sehingga kali ini kami dapat berangkat tanpa terlalu banyak kesulitan.”

11 Juni

kami berjalan menuju Djitmau dan di tengah perjalanan membuka klinik di Kumbuaja.

Di Djitmau kami menemukan kasus pengabaian anak yang sangat memprihatinkan. Seorang anak laki-laki, yang sebelumnya terdengar menangis terus-menerus, saya minta dibawa keluar dari rumah ayahnya. Ternyata anak itu disiksa oleh ibu tirinya hingga mengalami infeksi parah di kulit kepala.

Setelah ditanya, ibu tirinya mengaku tidak suka anak itu pergi ke sekolah karena ia tidak bisa lagi membantu pekerjaan kebun. Sebagai hukuman, anak itu digigit di lengan dan dipukul dengan tongkat di kepala serta punggungnya. Dokter kemudian membuat laporan resmi, meskipun sampai saat itu belum ada tindak lanjut. Memukul anak memang dianggap biasa di sana, tetapi kasus ini membuat penduduk kampung sendiri marah. Anak laki-laki itu dan adik perempuannya tampak sangat kurus dan tidak terurus.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan santai ke Tehak Besar. Kondisi kampung itu makin memprihatinkan. Hanya tersisa dua rumah, dan saya berharap segera ada aturan pensiun agar saya bisa memberhentikan Izaak. Ia sering memukul dan mencubit anak-anak bersama istrinya. Mereka sudah beberapa kali mendapat peringatan keras dari pemerintah setempat. Masalah seperti ini memang sering terjadi pada generasi tua Ambon; mereka merasa berhak memukul anak karena mereka sendiri dibesarkan dengan cara yang sama.

13 Juni

Dari Tehak kami berjalan ke arah tenggara menuju sungai Kais, menyeberangi sebuah dataran tinggi. Perjalanan itu memakan waktu sekitar tiga setengah jam. Pemandangannya indah, mirip dataran tinggi lain, hanya saja di sini lebih banyak pohon jenis Picea.

Jembatan gantung rotan di atas sungai Kais sangat mengesankan. Panjangnya sekitar 18 meter dan dimulai dari tebing setinggi tujuh meter di atas permukaan air. Dari sana jembatan menanjak miring ke seberang sungai dan diikat pada batu karang sekitar sepuluh meter lebih tinggi. Setelah menyeberang, orang masih harus memanjat tebing setinggi empat sampai lima meter untuk menemukan jalan setapak. Ngarai di bawahnya sangat indah, tetapi arus sungainya deras sekali, sekitar 2,5-3 meter per detik. Siapa pun yang jatuh ke sana kemungkinan besar tidak akan selamat.

Perjalanan menuju Susemuch jauh lebih berat. Jalannya begitu sulit sehingga kami hanya bisa menempuh sekitar dua setengah kilometer per jam. Kami baru tiba di Susemuch pukul dua siang.

Dari Susemuch banyak hal yang bisa dipelajari. Di sana pernah bekerja seorang penginjil muda bernama F. Saymar selama dua tahun. Walaupun belum berhasil membuka sekolah, ia berhasil membangun gedung sekolah dan rumah tinggal, serta rutin mengadakan sekolah minggu dan kebaktian gereja. Pada awalnya pekerjaannya sangat berat; bahkan beberapa kali nyawanya terancam.

Masalah utama sebenarnya berkaitan dengan kepentingan para pemegang kekuasaan adat. Mereka cukup cerdas untuk memahami bahwa, dalam “tatanan baru”, orang yang berpendidikan akan lebih mudah memperoleh kedudukan dan pengaruh. Karena itu, mereka berusaha menghambat pendidikan agar tidak muncul kelompok orang terdidik yang nantinya dapat mengancam posisi mereka di pemerintahan maupun pekerjaan gereja.

Pada bulan Desember akhirnya sebuah sekolah berhasil dibuka. Sempat ada kekhawatiran semua usaha itu sia-sia karena beberapa kepala kampung melarang anak-anak bersekolah. Namun larangan itu perlahan menghilang, dan kampung mulai menunjukkan perkembangan yang baik. Jumlah penduduk bertambah, dan kini ada banyak anak yang bersekolah. Untuk daerah pegunungan, tiga puluh murid sudah merupakan jumlah yang cukup besar.

Penginjil itu akhirnya tersedia untuk tugas lain. Sampai bulan Juni saya masih menempatkannya di Susemuch agar peralihan tugas berjalan lebih mudah dan supaya ia masih punya kesempatan belajar hal-hal praktis seperti administrasi sekolah dan sebagainya.

Karena kaki saya penuh lecet, diputuskan bahwa saya tetap tinggal di Susemuch sambil mengirim kabar ke kampung-kampung sekitar bahwa dokter sedang berada di sana. Ternyata hasilnya sangat baik; banyak orang datang berobat ke poliklinik.

Wilayah Aifat merupakan daerah yang penting. Dari pusat pemerintahan di Fuog, orang bisa turun menggunakan perahu menyusuri sungai Kamundan menuju pantai. Tanah di sana lebih subur dibanding daerah barat sungai Kais sehingga penduduknya lebih padat. Selain itu, laki-laki di wilayah ini sampai saat itu belum terlalu terlibat dalam kerja rodi pemerintah.

Pastor Katolik juga melihat pentingnya daerah ini dan berusaha dengan segala cara - termasuk memberi hadiah - untuk memperkuat pengaruhnya di sana. Jika ia berhasil, maka wilayah kami di sebelah timur akan terputus oleh deretan kampung Katolik dan Islam.

Ketika saya mendengar bahwa misionaris baru untuk daerah selatan Sausaport di pantai utara sedang dalam perjalanan menuju Aitinjo dan Mefkhajim, saya segera mengambil beberapa langkah:

  1. Seorang penginjil yang terlatih ditugaskan secepat mungkin ke Kotjower-Funia, sekitar 20 km di utara Susemuch.
    Di sana mereka tidak perlu menunggu sampai gedung sekolah dan rumah penginjil selesai dibangun. Kedua kampung itu kemungkinan besar akan dipusatkan di Kotjower, yang sebelumnya sudah meminta didirikan sekolah. Asisten pemerintah setempat, yang sudah menjadi Katolik Roma, diperkirakan akan membantu kami.
  2. Seorang penginjil berpengalaman ditempatkan di Ebiach. Di sana rumah dan sekolah sudah tersedia. .
    F. Saymar, penginjil sebelumnya di Susemuch, kemudian dipindahkan sebagai “guru darurat” di Ainod, kampung penting di timur laut Susemuch, dekat pertemuan sungai Ainod dan Kamoendan.
  3. Penginjil berpengalaman lain ditempatkan di kampung Fuog. .
    Guru darurat yang dibiayai misi, S. Tanamal, akan datang secepat mungkin. Tempat itu merupakan pusat wilayah administratif, sehingga nantinya penginjil dapat memperoleh posisi yang lebih tetap. Penempatan kedua guru darurat ini, termasuk Saymar, dibebankan pada anggaran kami sendiri.

Kebutuhan akan langkah-langkah ini makin jelas setelah saya berbicara dengan pastor di Mefkhajim. Secara pribadi pertemuan itu sebenarnya menyenangkan. Namun jelas terlihat bahwa ia memandang wilayah misi kami sebagai daerah yang “harus diselamatkan”, dan menganggap kami seperti “orang buta yang dipimpin orang buta.” Menurut saya, ia bukan ahli teologi yang baik dan sering menyindir dalam diskusi.

Dalam praktiknya, situasi ini berarti sudah ada persaingan terbuka. Pastor itu bahkan cukup jujur mengakui kepada asisten pemerintah - yang sebenarnya lawan pihak misi - bahwa pendudukan pos-pos selatan seperti Jarat dan Aiwasi bertujuan menjadi batu loncatan untuk menguasai wilayah Aifat. Dengan kata lain, mereka ingin masuk ke “perairan” kami dan memancing di sana. Untuk itu digunakan berbagai bentuk hadiah dan barang pemberian.

Saya sendiri berpendapat bahwa kami memang harus mulai bekerja lebih serius di wilayah itu. Yang terpenting adalah mengirim tenaga terbaik yang tersedia, menjaga hubungan dengan daerah tersebut, dan memastikan komunikasi berjalan baik.

Selain itu, pastor Katolik tampaknya yakin bahwa ia akan mendapat subsidi pemerintah bila berhasil mendirikan sebuah sekolah. Karena itu, bagi kami penting untuk membuka sekolah-sekolah bersubsidi di daerah itu secepat dan sebaik mungkin. Dengan begitu pihak Katolik tidak dapat menghindari aturan pemerintah Hindia Belanda yang melarang pemberian subsidi untuk sekolah yang letaknya kurang dari lima kilometer dari sekolah lain.

Persaingan ini sebenarnya menyedihkan dan memprihatinkan, tetapi kami merasa harus menghadapinya. Upaya untuk mencapai kesepakatan dengan pastor tersebut gagal karena ia menolak secara prinsip adanya perjanjian seperti itu. Saya mengerti bahwa ia memang sulit menyetujuinya, tetapi saya tetap merasa harus mencoba. Karena tidak ada jalan damai, saya akhirnya harus mengambil langkah-langkah untuk membatasi geraknya. Pastor itu sangat bergantung pada Mefkhajim untuk kebutuhan hidupnya. Jika transportasi dari Sausapor - tempat misi Katolik bekerja - dapat dipersulit, posisinya juga akan menjadi lebih sulit.

Karena itu, dengan dukungan kepala polisi Katolik Roma, ia berencana mengadakan sebuah “acara besar” saat Natal bersama beberapa pengikutnya di Mefkhajim.

Sementara itu pembangunan sekolah VVS di Teminabuan terus berjalan, walaupun penuh kesulitan. Sekolah itu harus mulai beroperasi pada 1 Agustus, selesai ataupun belum. Sangat penting bagi kami agar masyarakat setempat akhirnya memiliki guru sendiri. Baru setelah tiga atau empat tahun akan ada pemuda dari daerah ini yang kembali sebagai guru. Saya belum tahu pasti jumlahnya, tetapi untuk sementara saya hanya mendapat dua atau tiga orang per tahun.

Akhirnya seorang pengawas sekolah baru ditunjuk. Ia berasal dari Nieuw-Guinea Selatan, dan saya khawatir ia sudah dipengaruhi pihak Katolik. Jika benar demikian, akan sulit memperoleh izin resmi dari inspeksi pendidikan untuk guru-guru darurat kami. Padahal saya tidak mungkin mendapatkan pengakuan bagi sekolah-sekolah baru tanpa guru yang memiliki ijazah resmi (VGI atau diploma).

Dalam keadaan itu, beberapa sekolah harus sementara dibebankan pada anggaran kami sendiri dan dijalankan dengan guru yang benar-benar terlatih, yang berarti kami harus membayar gaji mereka sendiri. Mulai 1 Agustus, D.Z.V. memiliki dua tenaga kerja:

  • S. Tanamal sebagai guru darurat I (setingkat sekolah lanjutan/Ulo),
  • dan seorang guru darurat II untuk sekolah dasar.

Gaji resmi yang ditetapkan pemerintah masing-masing adalah 64 gulden dan 56 gulden per bulan. Jumlah itu sebenarnya sangat kecil bila dibandingkan dengan harga kebutuhan pokok saat itu:

  • beras 1 gulden/kg,
  • margarin 3,30 gulden,
  • daging 10 gulden/kg.

Selain itu, dari gaji di bawah 100 gulden masih dipotong pajak penghasilan sebesar 5%.

Harga barang di Hindia Belanda memang lebih rendah, tetapi hampir semua barang impor dari Belanda sebenarnya merupakan produk pabrik Tionghoa dari Hong Kong dan Singapura yang lebih dulu masuk ke Belanda sebelum didistribusikan lagi. Karena Mefkhajim saat ini hanya bisa dijangkau lewat udara, biaya transportasi dan risiko pengiriman membuat harga barang menjadi sangat mahal. Sebotol susu yang di Belanda hanya 80 sen, di sini harganya 1,20 gulden. Sebungkus 50 batang rokok yang biasanya 3 gulden menjadi 3,80 gulden, dan seterusnya.

Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Pada tanggal 25-31 Juli akan diadakan rapat wilayah di Teminabuan. Banyak persoalan penting akan dibahas, antara lain:

  • pembangunan jemaat,
  • kelompok pemuda dan kepanduan,
  • perbaikan pendidikan bersubsidi,
  • peningkatan pengajaran Alkitab di sekolah-sekolah bersubsidi,
  • serta penyusunan kurikulum dan jadwal pelajaran katekisasi.

Persiapan sedang dilakukan untuk memberikan kursus tertulis. Istri saya menyiapkan bahan-bahan, sementara pejabat pertanian, Matthijssen, Kobus, dua guru senior, dan saya sendiri terus belajar bersama mengenai konsep-konsep Perjanjian Baru seperti ekklesia dan koinonia. Buku-buku baru yang baru tiba dari Kittel sangat membantu proses belajar itu. Masa belajar dan pekerjaan praktis menjelang konferensi ini terasa sangat memperkaya pengalaman kami.

Tuan Kobus sendiri belum tiba. Saya memperkirakan ia baru datang akhir bulan ini. Salah satu kekurangan terbesar di sini adalah bahan ajar yang menarik untuk sekolah. Buku dan gambar hampir tidak ada, apalagi atlas. Beberapa sekolah beruntung memiliki satu buku baca untuk setiap anak, tetapi biasanya teks buku itu tetap harus ditulis ulang di papan tulis.

Buku-buku bacaan biasa yang dijual penerbit Wolters tidak cocok dipakai di sini. Buku itu dibuat untuk anak-anak di Jawa atau wilayah Sunda Besar lain yang hidup di lingkungan Islam. Hewan seperti harimau atau kerbau sama asingnya bagi anak-anak kami seperti halnya seekor kuskus bagi anak sekolah di Belanda.

Karena itu saya berencana menyewa seorang guru yang baik untuk menulis cerita-cerita bagi anak-anak, dan kalau mungkin juga untuk orang dewasa. Cerita itu kemudian akan dicetak, dijilid sederhana, lalu dijual kepada anak-anak dengan harga pokok agar mereka belajar menghargai nilai sebuah buku.

Namun masalah terbesar tetaplah bagaimana memenuhi “kelaparan membaca” masyarakat. Hanya mengandalkan Alkitab saja tidak cukup. Kami juga kekurangan penulis cerita berima seperti Cats atau tokoh sastra seperti Hildebrand. Jika kami menemukan seorang pencerita atau penulis yang baik, kami bisa menggandakan buku-buku sederhana dengan mesin stensil. Untuk itu kami memerlukan kertas dan mesin stensil yang layak.

Stensil lama milik saya sebenarnya cukup baik untuk surat edaran dan tulisan tangan, bahkan untuk kerangka khotbah, tetapi tidak cocok jika harus mencetak seribu eksemplar. Kalau kami ingin membangun jemaat yang tangguh, pekerjaan ini harus dimulai sekarang. Semakin banyak lalu lintas dan hubungan dengan dunia luar, serta makin banyak orang bekerja di perusahaan seperti NNGPM, membuat masyarakat makin sering berhubungan dengan orang Katolik dan Muslim. Mereka harus mampu mempertahankan keyakinannya dengan argumen yang lebih baik daripada sekadar berkata, “Itu tidak benar!”

Tujuan kami adalah membangun jemaat yang juga bersifat misioner. Selama ini banyak orang memahami jemaat hanya sebagai kelompok yang mengumpulkan uang untuk mendukung para penginjil yang dikirim keluar. Padahal setiap penginjil harus mampu mempertanggungjawabkan dan membela imannya sendiri di tengah lingkungan yang tidak mendukung.

Catatan: Hingga kini kami baru menerima dua orang utusan, tetapi semua buku dan majalah yang dibutuhkan untuk pekerjaan kami harus kami pesan dan biayai sendiri. Menariknya, laporan-laporan seperti ini - sama seperti banyak anggaran lainnya - hampir tidak pernah mendapat tanggapan tertulis. Pengecualian satu-satunya hanyalah surat dari seorang pengurus yang bertanya apa sebenarnya yang saya kerjakan sepanjang hari.

Selain itu, saya merasa penting untuk menjalin hubungan dengan UNESCO. Saya memiliki beberapa publikasi yang dipinjamkan oleh pejabat pemerintah, yang ia bawa dari konferensi South Pacific. Publikasi itu berasal dari dua seri:

  • Monographs on Fundamental Education
  • Fundamental Education, a Quarterly Bulletin

Walaupun proyek-proyek yang dibahas dalam publikasi itu berasal dari berbagai belahan dunia, baik pejabat pemerintah maupun saya sendiri sampai pada kesimpulan bahwa masalah yang mereka hadapi ternyata sangat mirip dengan persoalan di sini. Hal itu terutama terlihat dalam kasus Haiti dan Meksiko.

Ketika pihak pengurus ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang saya, mereka dapat menghubungi wakil untuk Belanda, yaitu J.V. Martinus Nijhoff di Lange Voorhout 9, Den Haag. Akan lebih baik bila surat ditulis dalam bahasa Inggris. Saat ini saya menjadi satu-satunya orang di sini yang dapat membaca bahasa Prancis dengan lancar. Hal itu juga penting bagi istri saya, Kobus, dan Jan Matthijssen.

Nilai dari buku-buku pengetahuan dan literatur yang baik sering kali diremehkan. Karena itulah kami jarang sempat membaca novel. Bila ada sedikit waktu luang, biasanya kami lebih memilih membaca majalah berita, buku pelajaran, atau bahan bacaan lain yang berguna untuk pekerjaan kami.

Kini saya menyadari bahwa biaya besar yang dulu kami keluarkan untuk membeli buku ternyata sangat berharga dan bermanfaat.

Untuk hari ini saya akhiri laporan ini. Sekali lagi, tulisan ini lebih banyak berupa cerita dan percakapan pribadi daripada laporan resmi.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada kami. Saya juga memikirkan rekan-rekan yang bekerja di pos-pos terpencil di pedalaman. Mereka hidup berminggu-minggu tanpa kontak dengan orang-orang yang seiman, tinggal di tengah masyarakat yang berbeda budaya, sering mengalami kelaparan, dan terus menghadapi tekanan dari pihak gereja Katolik Roma beserta pendukung-pendukungnya. Mereka harus berhadapan dengan berbagai pengaruh luar, termasuk barang-barang modern dan perubahan sosial yang semakin besar.

Salam hangat dari saya dan istri saya.

Posting Komentar

Posting Komentar