Bookmark

Memoar Pdt. Markus dari Teminabuan#15

152-154
Gambar Dari Keabadian hingga Amin oleh Pdt. Markus
Tahun 1951
152

Selama bulan Juli, pembangunan mulai menunjukkan hasil nyata. Dua bangunan utama-rumah sakit dan sekolah lanjutan-sudah dapat digunakan. Tanggal ujian masuk pun bisa ditetapkan setelah keputusan pemindahan pegawai selesai diketik.

Hal itu terdengar sederhana, tetapi kenyataannya cukup rumit. Sebanyak 13 salinan harus dibuat dan dikirim kepada para pegawai pemerintah, petugas pendidikan, serta pejabat gereja yang terkait. Mesin stensil tua kembali dipakai untuk menggandakan laporan bulanan Mieneke dan laporan perjalanan, yang masing-masing dibuat dalam delapan salinan.

Kami sempat bertanya-tanya apakah semua aturan administrasi itu dibuat demi mendukung industri kertas Belanda. Bahkan perdagangan kebutuhan sehari-hari pun saat itu dimonopoli oleh perusahaan Belanda.

Ujian Masuk Sekolah

Para kepala sekolah diminta membawa murid terbaik dari kelas tiga, begitu juga para guru jemaat dan penginjil.

Ujian masuk diadakan di Teminabuan oleh Tj. Kobus dan B. de Frêtes. Bentuk ujian ini bersifat perbandingan sehingga para guru lama-yang sering kali kualitasnya kurang baik-terlihat jelas kekurangannya.

Walaupun begitu, jumlah murid yang lulus tetap lebih banyak daripada kuota yang tersedia. Karena keterbatasan tempat, sebagian murid harus dikirim ke Sorong. Untungnya mereka tetap senang mendapat kesempatan itu.

Mieneke bertugas memeriksa hasil kelulusan dan selama minggu itu ia sangat sibuk.

Ketegangan di Konda

Pertemuan di Konda berlangsung sulit. Terutama para guru Ambon merasa marah karena hasil ujian yang buruk membuat mereka kehilangan wibawa.

Mereka sebelumnya mengira dapat memilih beberapa murid dari tiap kampung sesuka hati. Karena itu mereka menganggap ujian perbandingan tersebut tidak adil. Padahal orang-orang yang sama juga sering gagal menjalankan tugas mereka sebagai pemimpin jemaat dan menolak pembaruan.

Mereka juga tidak menyukai kenyataan bahwa guru-guru muda, penatua, dan penginjil kini memiliki hak suara dan pengaruh yang sama.

Salah seorang di antara mereka diberhentikan karena perilaku tidak senonoh. Beberapa orang yang terkenal tidak cakap-termasuk iparnya-berusaha membuat guru darurat baru di Fuog mabuk agar ia gagal menempati jabatan penting itu.

Upaya itu gagal. Namun dalam dua tahun berikutnya saya masih harus memberhentikan dua orang lagi karena pelanggaran serupa.

Mereka menuduh saya terlalu keras di hadapan atasan saya. Namun saya justru mendapat dukungan dari banyak orang Ambon, baik tua maupun muda, yang mengetahui berbagai skandal yang nantinya juga harus saya tangani.

Orang yang memberontak itu saya panggil untuk berbicara. Ia tidak menyadari bahwa tindakannya justru merugikan dirinya sendiri. Akhirnya saya tidak jadi memecatnya, dan kemudian ia malah menjadi tenaga yang sangat berguna serta berhasil membangun Fuog menjadi tempat yang berkembang dan dihormati.

Perjalanan Baru

Hasil pendidikan yang buruk itu membuat kami memutuskan untuk kembali mengunjungi Inanwatan dan Metamani.

Kami mendapat kesempatan ikut menumpang kapal tunda yang sedang menuju Inanwatan.

153

Kami baru saja keluar dari muara sungai ketika angin mulai bertiup kencang dan ombak semakin tinggi. Kapten kapal tidak berani melanjutkan perjalanan melawan arah angin dan gelombang, sehingga kami terpaksa berlayar ke arah tenggara dengan kecepatan setengah hingga keesokan paginya tiba di Fak-Fak untuk beristirahat.

Perjalanan itu berat, baik bagi penumpang maupun awak kapal. Rekan kami menyambut kami dengan ramah dan selama dua malam kami menjadi tamunya. Setelah cuaca membaik, kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di Inanwatan dengan keterlambatan tiga hari.

Di sana kami bertemu seorang perawat baru, seorang perempuan yang ceria dan menyenangkan, sehingga kami langsung akrab dengannya.

Meninjau Jemaat dan Sekolah Bermasalah

Kami kembali mengunjungi jemaat dan sekolah yang sebelumnya dilaporkan bermasalah. Bagi Mieneke, ini adalah pengalaman pertama, dan ia pun merasa pesimis melihat keadaan di sana.

Hanya guru di Janadian yang tampak peduli terhadap kesehatan masyarakat, karena angka kematian anak akibat malaria mencapai 75%.

Di Saga, kondisi ekonomi terlihat cukup baik karena penduduk banyak memasok barang kepada N.N.G.P.M.

Namun di Puragi, keadaan sangat memprihatinkan. Empat tahun sebelumnya, rekan saya telah memindahkan Guru Aipasa-yang berhasil membangun desa teladan di sana-ke pos baru di sebelah timur Inanwatan. Penggantinya ternyata tidak cakap dan kemudian diketahui juga tidak dapat dipercaya dalam urusan dengan anak-anak perempuan.

Ketika saya memeriksa sekolah dengan teliti, ia marah. Ia semakin marah ketika saya menyimpulkan bahwa murid-murid bahkan belum mampu membaca satu atau dua halaman lebih jauh dari bagian yang pernah dibacakan guru mereka.

Saya kemudian menguji mereka dengan meminta membaca kata-kata sederhana dari buku pelajaran kelas satu-kata-kata yang seharusnya sudah mereka kuasai. Hasilnya sangat buruk; sekolah itu benar-benar kacau.

Kondisi Kampung dan Pekerjaan yang Menumpuk

Kampung itu kotor, rumah-rumah banyak yang rusak, dan banyak penduduk tinggal di hutan bakau bersama kebun sagu mereka. Semua tanda menunjukkan bahwa keadaan di sana sangat buruk, sehingga saya sadar harus segera bertindak.

Sekembalinya ke Mefkhajim, laporan keuangan tahunan harus diselesaikan. Saya telah lebih dari 26 minggu melakukan perjalanan dinas, sebagian besar bersama Mieneke. Sejak 1 Januari 1950, saya juga mengurus administrasi untuk pekerjaannya.

Di rumah kami sendiri tercatat sekitar 3.500 hari perawatan pasien, sementara Mieneke menangani 21.064 konsultasi medis. Antara 4 Juli hingga 30 September saja, rumah sakit mencatat 565 hari perawatan pasien.

Pembangunan dan Tanggung Jawab

Di bidang pekerjaan saya sendiri, pembangunan sekolah lanjutan untuk anak laki-laki berhasil diselesaikan tepat waktu pada tahap pertama.

Melalui negosiasi dengan para kepala suku, saya berhasil memperoleh lahan yang luas untuk pembangunan. Pekerjaan itu mencakup:

  • mengukur tanah dan menentukan fondasi,
  • membeli dan membayar bahan bangunan,
  • mengawasi pekerja dan tukang,
  • serta mengatur pembayaran mereka.

Untuk mengurus semua itu, saya harus berjalan kaki ke pantai dan kembali sejauh 75-85 kilometer setidaknya sekali setiap bulan, bahkan kadang lebih sering.

Selain pekerjaan “utama” tersebut, saya juga harus membuat daftar gaji bagi para pegawai yang termasuk dalam program subsidi pemerintah. Saya juga mengurus hal yang sama untuk staf Mieneke.

Belum lagi saya masih harus membuat gambar rancangan bangunan untuk:

  • dua rumah tinggal,
  • sebuah sekolah dengan tiga ruang kelas,
  • asrama untuk 30 murid,
  • dan dapur yang menyatu dengan ruang makan.

Tanpa kemampuan dan kerja keras Guru Parera, saya tidak mungkin dapat menyelesaikan semua pekerjaan itu.

154

Pekerjaan gereja saat itu sangat membutuhkan pembaruan organisasi. Dengan melihat perkembangan politik yang sedang terjadi, saya memperkirakan bahwa sekitar 12 tahun kemudian penyerahan kedaulatan kepada Indonesia-baik secara terpaksa maupun sukarela-akan menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. Karena itu, gereja yang sedang dibangun harus segera memiliki pedoman yang memungkinkan gereja tersebut nantinya dapat mengatur dirinya sendiri.

Namun ada beberapa hambatan besar. Sebelum perang, tenaga-tenaga gereja dididik melalui sekolah MULO, sekolah zending, atau sekolah guru. Sayangnya, banyak dari mereka tidak memahami perubahan dunia setelah perang, khususnya di negara-negara berkembang. Mereka juga belum menyadari apa yang dibutuhkan agar gereja dapat berdiri sendiri dan berjalan mandiri. Yang lebih sulit lagi, sebagian besar masih berpikir dengan pola hierarki lama.

Padahal sistem seperti itu tidak cocok diterapkan di wilayah yang sangat luas-sekitar enam belas kali luas Belanda-dengan infrastruktur yang buruk dan sarana komunikasi yang sangat terbatas.

Karena itu saya mulai merancang tata gereja yang baru. Dalam rancangan tersebut, hubungan dengan pusat tetap ada, tetapi campur tangan dari lembaga pusat yang sulit dijangkau dibuat seminimal mungkin.

Sebagai contoh, saya terinspirasi oleh tata gereja baru di Berlin-Brandenburg, Jerman. Pada masa itu banyak pendeta dan anggota majelis gereja ditangkap atau diawasi oleh pemerintah Rusia maupun bawahannya. Dalam keadaan seperti itu, setiap anggota jemaat didorong untuk ikut bertanggung jawab agar pelayanan gereja, penggembalaan, dan diakonia tetap berjalan sebaik mungkin.

Sebelum berangkat ke daerah pelayanan, kami telah membeli berbagai buku dan literatur penting, terutama dalam bahasa Inggris dan Jerman. Namun kebanyakan rekan saya yang dididik sebelum perang tidak dapat mengakses bahan-bahan tersebut. Saya bahkan pernah meminta seorang guru di Oegstgeest agar para murid sekolah zending diperkenalkan pada literatur Belanda yang baik dan bermutu.

Saat melakukan perjalanan pelayanan, kami selalu membawa buku-buku penting untuk mengisi waktu senggang. Dari pengalaman itu saya makin sadar bahwa dalam proses pertemuan budaya, pengetahuan kita sebenarnya selalu sangat terbatas.

Karena itu saya tidak heran ketika kami menerima banyak kritik dari berbagai pihak. Dalam proses demokratisasi-dalam hal ini perubahan dari struktur gereja yang hierarkis menjadi lebih bersifat sinodal-banyak orang merasa posisinya terancam. Mereka takut harus berbagi kekuasaan dengan orang lain yang selama ini mereka anggap “lebih rendah”.

Kesulitan serupa juga terlihat di negara-negara yang saat itu berada di bawah pemerintahan Marxis. Hal itu dialami bukan hanya oleh rekan-rekan saya, tetapi juga oleh badan-badan zending sendiri.

Posting Komentar

Posting Komentar