
Karena Mieneke dan saya merasa hukuman itu terlalu berat, gubernur akhirnya mengangkat orang yang dihukum itu menjadi pegawai pemerintah, di bawah pengawasan kepala dinas. Secara resmi ia hanya boleh melakukan pekerjaan kasar, seperti mengambil air dan tugas-tugas ringan lainnya. Namun dalam waktu singkat ia ternyata dilatih menjadi asisten perawat. Setelah bebas, ia bahkan ditempatkan sebagai petugas P3K di distrik Aifat. Penempatannya dilakukan di Ainod, dekat pos misi, sehingga seorang teman dapat mengawasinya.
Dari berbagai kekecewaan yang kami alami dengan tenaga muda, saya mulai yakin bahwa cara merekrut pekerja harus diubah secara mendasar. Karena itu saya mulai mendekati para guru senior, penatua gereja, diaken, dan anggota majelis gereja lainnya, lalu mendorong mereka untuk bekerja sebagai penginjil.
Memang, dengan cara ini kemampuan intelektual para pemuda tidak banyak tersalurkan. Namun ada keuntungan besar: beberapa pria dewasa yang termasuk generasi pertama orang bertobat dan sudah terbukti setia menjadi semakin kuat dalam iman dan tanggung jawab mereka. Akibatnya, penghormatan masyarakat terhadap para penginjil juga meningkat.
Hubungan yang awalnya baik antara H.P.B. dan para kepala dinas lain sayangnya cepat memburuk. Perselisihan terutama muncul karena H.P.B. menganggap dirinya bukan sekadar “yang pertama di antara yang setara”, melainkan kepala tertinggi semua dinas. Ia merasa berhak memberi perintah langsung kepada bawahan dari dinas-dinas lain.
Harapan besar yang sebelumnya muncul di Inanwatan tentang kerja sama dan pertukaran gagasan antarbidang akhirnya tidak terwujud. Perbedaan pandangan yang paling mendasar menyangkut adat setempat. Dari sudut pandang Gereja Reformed, H.P.B. percaya bahwa semua pemerintah dan pemimpin adat mendapat otoritas langsung dari Tuhan. Pendapat ini ia sampaikan dalam konferensi bulan Desember ketika ia hadir sebagai tamu.
Ucapan itu menjadi bahan ejekan di kalangan guru-guru lokal. Bahkan sampai akhir tahun laporan ini dibuat, H.P.B. akhirnya diganti dari jabatannya.
Pelayanan Kesehatan
Staf kesehatan terdiri dari seorang dokter, seorang perawat laki-laki, dan beberapa asisten perawat dengan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Sama seperti bidang pendidikan dan pertanian, pelayanan kesehatan juga mengalami banyak kesulitan, terutama dalam pengadaan obat-obatan dan perlengkapan medis.
Bahkan pengawas baru yang datang dari Belanda berpendapat bahwa perjalanan dari Inanwatan ke Ajamaru seharusnya bisa ditempuh dengan mobil. Kenyataannya, semua barang masih harus dikirim melalui Inanwatan, sehingga situasinya sering terasa sangat sulit dan menyesakkan.
Pada saat laporan ini ditulis, sebagian perlengkapan untuk kuartal pertama dan kedua tahun 1951 bahkan masih belum diterima. Daerah itu berada di awal jalur menuju Sungai Kais, tepatnya di wilayah Aup. Tempat tersebut sangat sulit dijangkau, sementara tenaga pengangkut juga sulit didapat.
Namun ketika melihat hasil yang tetap berhasil dicapai di tengah segala keterbatasan itu, kami hanya bisa merasa sangat bersyukur.
Secara keseluruhan terdapat 4.065 hari perawatan bagi pasien rawat inap, dan lebih dari 3.500 di antaranya dirawat di rumah kami sendiri. Rumah sakit baru baru dapat mulai dipakai sekitar bulan September. Sebelum itu, ruang rawat dan poliklinik masih ditempatkan di rumah dinas kami, sesuatu yang cukup mengganggu konsentrasi saya sebagai pekerja misi wilayah.
Pernah ada enam bayi sekaligus dirawat bersama ibu mereka. Bayi-bayi itu bergantian menangis keras sehingga suasananya sangat bising. Karena kekurangan tempat, seorang ibu yang akan melahirkan bahkan harus ditempatkan di kamar tidur kami, dan persalinannya juga berlangsung di sana.
Pada saat yang sama ada beberapa pasien disentri di ruang rawat, beberapa pasien luar di poliklinik, dua penginjil yang sakit di ruang tamu, dan satu lagi di lorong rumah. Kami sendiri tidur berdekatan dengan ibu yang melahirkan dan bergantian membantu menjaga bayinya. Syukurlah, ibu itu cukup bijaksana untuk melahirkan pada siang hari.
Bayi itu sangat pendiam, jarang menangis, tetapi justru membutuhkan perhatian ekstra karena terlalu lemah untuk menyusu. Sekitar dua minggu kemudian saya sempat mendapat pelatihan singkat untuk membantu persalinan. Setelah itu, kamar kami akhirnya kembali menjadi ruang pribadi bagi saya dan Mieneke.
Di poliklinik, tercatat 21.064 pasien mendapat perawatan. Rata-ratanya sekitar 70 pasien setiap hari kerja. Selain itu, diberikan pula 10.495 suntikan neo-salvarsan. Masyarakat sangat senang menerima sampel obat gratis yang sesekali dibeli dalam jumlah besar oleh G.A.
Akan sangat membantu jika para dokter di persaudaraan gereja mengumpulkan sendiri sampel-sampel obat gratis yang mereka terima, lalu mengirimkannya ke Inanwatan. Bantuan kecil seperti itu ternyata sangat efektif. G.A. umumnya juga mendapatkan banyak bahan promosi dan literatur pendukung secara cuma-cuma.
Dalam banyak perjalanan keliling wilayah, saya didampingi oleh Mieneke sebagai G.A. Kerja sama ini ternyata sangat baik bagi kami berdua. G.A. bahkan memberi Mieneke tanggung jawab yang lebih besar dibanding pendahulunya dari luar negeri, J. van der Hoeven.
Dua minggu terakhir sebelum Natal kami gunakan sebagai masa “libur”. Mieneke untuk sementara tidak dapat bekerja karena beberapa infeksi yang dideritanya. Sementara itu saya memakai waktu tersebut untuk mempersiapkan bahan studi bagi kebaktian gereja dan menyelesaikan laporan tahunan.
Perayaan Sinterklas dirayakan bersama Pengawas B.B. beserta istri dan anak-anaknya, juga bersama penyuluh pertanian dan istrinya.
Saya sendiri sempat melakukan kunjungan mendadak ke Aitinjo, tempat seorang guru hidup dalam permusuhan dengan asisten pemerintah setempat. “Masalah yang menarik bagi manusia,” tulisnya secara sinis.
Di kalangan orang Ambon pun ternyata masih ada perbedaan status sosial yang tidak otomatis hilang hanya karena kesamaan iman atau jabatan sosial.
Menjelang Natal, saya mengalami cedera lutut yang cukup parah dan itu cukup mengganggu kegiatan saya selama masa Natal.


Posting Komentar