Malam itu ada kejutan bagi saya. Di ujung beranda muncul seorang pria dewasa berjalan dengan tangan dan kaki. Dia dulu pernah mengalami kecelakaan di hutan saat masih anak-anak dan mencari nafkah sebagai tukang kayu, tetapi tidak mau bekerja di luar desanya. Dia bersedia menyediakan tiang dari kayu pohon di Teminabuan untuk rumah-rumah.
Perjalanan dinas kali ini dilanjutkan dengan sebuah perjalanan berat, tidak lebih dari ± 8 km, tetapi sebagian besar melalui rawa. Sepatu baru saya mendapat tantangan terberatnya. Sesekali kami harus mengarungi air dangkal. Durasi normalnya dari rute (5 jam), kami harus melewatinya lebih dari 9 jam. Porter saya juga kelelahan. Banyak juga lintah dan agas (lalat kecil yang haus darah). Saya menggunakan tongkat sepanjang 2 meter yang saya pilih untuk perjalanan ini. Disiplin diri memang perlu; ketika desa terlihat, saya menyisir rambut dan memasang wajah ramah.Setelah mandi, makan dan tidur siang, sore hari diadakan ibadah gereja dengan bertelanjang kaki.
Keesokan paginya saya tidak mengalami nyeri otot, saya memeriksa sekolah, yang jauh lebih baik dari semua yang sudah saya lihat sejauh ini. Guru itu tidak disukai di antara rekan yang lebih tua (Mungkin karena itu dia dikirim ke daerah pinggiran?) dan dia punya kebenaran di pihaknya: dia adalah salah satu dari 4 guru yang berpendidikan): 4 dari 23!. Bertelanjang kaki saya juga memeriksa desa. Penyediaan air buruk, dan sumur terinfeksi disentri amuba oleh tentara Jepang. Saya minta kepala desa, untuk menggali selokan. Perbedaan antara air surut dan air pasang setidaknya 4 meter, sehingga dengan beberapa parit yang baik, setidaknya sebagian dari tempat berkembang biak untuk nyamuk malaria akan hilang.
Setelah makan saya dibawa dengan sebuah perahu kecil dengan memanfaatkan air pasang dengan cepat dan mudah ke hulu ke Waloin. Air surut kecepatannya ± 6 km/jam; itu tidak bisa dilawan dengan perahu motor, apalagi dengan perahu. Kami mendekati bukit dan melihat desa kecil- Kla-Mbot - yang terletak di perbatasan dengan Sorong. Saya membuat banyak foto, dengan tujuan mengilustrasikan sebuah boek (buku) kecil. Setelah kunjungan singkat ke Penginjil di Waloin dan Haha, saya mencapai hulu sungai, dan harus berjalan lagi lewat jalan setapak ke Seribau, salah satu jemaat baru, terhubung melalui anak sungai dengan hulu Kaibus. Sisa 8 km bertelanjang kaki adalah ujian untuk pengendalian diri dan daya tahan. Daerah batu kapur tidak terlalu melelahkan daripada rawa, tetapi kadang menyakitkan.
Ketika saya setelah mandi menikmati kopi yang disuguhkan istri Guru kepada saya, kami mendengar suara kulit kerang; itu mengumumkan kedatangan rekan saya. Sampai 3/10 kami kemudian bersama mengunjungi, setelah Seribau juga di Wersar dan Teminabuan. Tanggal 3, sore hari dengan memanfaatkan air surut, kami kembali di Konda, di mana saya menunggu Mieneke.
Perjalanan dinas ini mengajari saya untuk hemat sabun, karena kulit saya yang tipis sangat sensitif terhadap iritasi kulit/ruam dan saya memang sudah tidak punya perlindungan dari lapisan lemak. Dalam perjalanan saya juga mengalami serangan malaria, tanpa terlalu menderita karenanya. daya tahan tubuh saya baik, dan kami dengan penuh semangat masuk ke pegunungan. 4 Oktober saya dijemput di Konda dengan perahu motor dari Pemerintah, kami besama rombongan yang akan membangun pemukiman baru. Kami lega bahwa kami sudah pergi dari Inanwatan. Saya sudah cukup mendengar, sendiri mendengar dan melihat bagaimana tidak seharusnya. Orang dewasa - berapa pun masa dinas mereka - tidak boleh diperlakukan sebagai orang yang tidak cakap/belum dewasa. Saya menjadi saksi bagaimana orang-orang dimaki-maki, baik di kantor, maupun di gereja. Orang tua saya telah menekankan kepada kami perlunya bersikap sopan terhadap pegawai, dan ramah untuk semua perempuan.
Rudyard Kipling, Multatuli dan nyonya Szekely-Lulofs memperlihatkan sisi buruk dari tatanan kolonial, dan banyak dari itu sudah saya kenali dalam 3 bulan pertama, sejak kami turun dari pesawat di Biak. Kesan pertama ini diteguhkan pada tahun-tahun berikutnya, bahwa krisis tenaga -terpaksa - memberikan wewenang kepada orang-orang dalam jabatan, yang untuk itu mereka tidak cukup dilatih. Tetapi dari hasil para 'zendeling-werklieden' (misionaris-pekerja/tukang) seharusnya orang menarik pelajaran. Justru dalam pola budaya yang begitu primitif, diperlukan spektrum pengetahuan yang luas pada tingkat lebih dari menengah, sebagai syarat pertama. Dalam persiapan saya maka Dr. A. Kruyt, Dr. N. Adriani, Nommensen dan Dr. F.C. Kamma dan yang ditolak oleh 'Oegstgeest' (pusat pelatihan misionaris) Dr. Bervoets dan Prof. Held adalah contoh cemerlang; singkatnya: kesalehan saja tidak cukup! Pengetahuan yang mendalam menurut kami adalah syarat untuk mewujudkan sesuatu.
Selama hari-hari berikutnya datang 300 pria dan wanita, yang memungkinkan perjalanan kepindahan ini. Mieneke punya klinik yang sibuk, karena di sana-sini para porter terluka. Seorang wanita dengan riang membawa mesin jahit di tas gendong besarnya dan membawanya dalam satu hari sejauh 37 km ke pegunungan, rute yang melewati 8 punggung gunung dan kadang melalui lembah berawa menuju tempat tinggal baru kami Mefkhajim.
Mieneke merasa tidak fit, menderita diare, menelan pil, dan keesokan paginya pergi lagi dengan semangat. Kami berdua sangat menikmati perjalanan ini. Tetapi medan segera menjadi sulit dilalui. Memang pada lereng yang paling curam selama ekspedisi militer, telah dipahat anak tangga di mana kemiringan lebih dari 50%. Karena kami cukup sering harus istirahat) untuk mengatur napas, saya punya kesempatan mengamati formasi batuan lebih dekat: ternyata itu terumbu karang dengan banyak fosil indah. Kami butuh 7 1/2 jam untuk separuh jarak. Di sana ada dusun dengan 'pasangrahan' (pondok penginapan), gubuk tempat Anda bisa menginap. pelayan Anda bisa memasak makan di api kayu terbuka.
Namun ada sebuah tempat mandi mewah di sebuah sungai kecil yang liar. segar kembali dan lelah kami pun tertidur. Mieneke mengalami demam dan perawat dengan bantuan porter dari sebuah kursi malas membuat tandu. Hari berikutnya medan lebih mudah, dan menjelang siang kami mencapai tujuan akhir kami. Guru mengatur penyambutan dengan cara yang lazim. Mieneke duduk di terik matahari, saya berdiri, sementara anak-anak menyanyikan Wilhelmus (lagu kebangsaan Belanda) dan sebuah Psalm (Mazmur). Mieneke pergi tidur dengan malaria berat; saya mengambil alih kehormatan untuk kami berdua.
· N.B.: op de kaart staat 'Ajamaroe' (di peta tertulis 'Ajamaroe'), maar dat betreft de 3 meren (tetapi itu merujuk pada 3 danau).




Posting Komentar