Bookmark

Memoar Pdt. Markus dari Teminabuan#4

Kami sangat puas dengan lingkungan dan rumah kami. Karena Mieneke masih sakit dan baru perlahan-lahan pulih, saya bisa menata mebel, sejauh sudah tiba. Kami punya 5 kamar luas dan sebuah beranda besar. bangunan tambahan terhubung dengan rumah melalui lorong beratap. Di sana ada dapur, gudang, kamar mandi dan toilet serta 3 kamar untuk pelayan.

Rumah ini dibangun oleh Genie (Zeni/korps teknik militer) pada 1924 untuk dokter militer dan dari beranda Anda memiliki pemandangan luas atas bagian penting dari wilayah kerja kami. Rumah kami terletak di lereng utara dari terumbu karang ke-8, dan sampai ke terumbu ke-9 kami bisa melihat dataran danau. Jauh di Utara, Pegunungan Tamrau membatasi pandangan kami dan di Timur laut massif pegunungan de Faumay, 45 kilometer yang sulit ke arah timur. Setelah peninjauan militer itu, rumah ini hanya berfungsi sebagai tempat berteduh untuk pegawai yang sedang berkeliling dinas.

Karena belum ada Rumah Sakit, sebuah kamar 6 x 4 m ditujukan sebagai bangsal pasien dan satu kamar kecil di sebelahnya dijadikan Poliklinik dan apotek. perawat mendapat kamar di bangunan tambahan. Juga penyuluh pertanian belum punya rumah. Karena istrinya - yang kami kunjungi sebelum keberangkatan di Amsterdam - sudah dipanggil, dia boleh memakai kamar tidur kami. Ruang duduk besar menjadi kantor - ruang makan - ruang penyimpanan untuk mebel dan buku-buku kami. Dari peti-peti dibuat rak buku, setidaknya di tempat yang tidak ada satu dari 11 lubang di atap kami yang justru memudahkan membersihkan debu rumah kami.

Yang merepotkan adalah HPB (Kepala Pemerintahan Setempat) segera harus pergi untuk Pertemuan South Pacific Conference. Pegawai pertanian dan saya karena itu juga harus mengurus komunikasi radio. Juru tulis, yang diserahkan pendahulu saya kepada saya, ternyata hanya aktif atas perintah - dia tidak berguna: dia tidak melakukan apa-apa kalau saya tidak ada. Kami lebih butuh seorang pemuda yang mau jadi perawat. Mieneke mengajarinya berhitung, karena guru di desanya tidak mengajarinya berhitung menurut 'Bartjes' (metode berhitung populer Belanda). Hal semacam itu sering kami temui selama 2 tahun pertama! Tapi dia membeli dengan harga murah sayur, dan bangga dipercaya mengelola uang. Kami diuntungkan, karena Josias adalah cucu dari Raja van Wersar (Raja Wersar). saat perjalanan dinas kami banyak terbantu olehnya.

Sehari setelah keberangkatan H.P.B., saya mendapat kabar tentang konflik antara 2 marga/suku, keduanya tidak berniat mengalah walau sejengkal. Karena kepala polisi masih di Inanwatan dan kepala distrik, Mohammed Raja Comissie, sedang bertugas di utara danau, saya memutuskan pergi sendiri. Seorang penatua gereja - Paulus Duwit - mencari porter, sementara dia sendiri pemandu dan penerjemah. Dalam semua tahun berikutnya dia menjadi sahabat tepercaya dan penasihat bagi kami. Sebagai anggota salah satu marga terpenting, dia dihormati di mana-mana. Dari dia kami banyak belajar.

Saya meninggalkan Mieneke dengan berat hati sendirian. Bukan hanya dia menangani lebih dari 200 pasien per minggu, dia juga harus mengajarkan sedikit pengetahuan medis kepada 2 pembantu perawat. Jjuru suntik vaksin dan pembantu perawat Lambert Gemuna mendapat pelajaran bahasa Belanda dari dia. Polisi mengirimkan kandidat-kandidat kepadanya untuk diperiksa kesehatannya, tetapi sebuah kartu tes mata belum ada.

Nyawa manusia lebih penting, dan jadi saya berangkat dengan Paulus dan satu set pakaian tambahan, sebuah botol air minum, dan kamera saya, menuju Kambufatem. Di daerah yang padat penduduk ini (10 orang per km²) tidak ada hutan rimba. Hanya ada semak belukar, sejenis Azalea dan anggrek tanah, untuk mempercantik pemandangan, dan pohon aren. Dari nira manis di tandan bunga mereka dibuat tuak/arak. Setelah 2 jam berjalan, kami dipanggil dari sebuah rumah pohon. pemuda menjaga perbatasan dari wilayah marga mereka. Paulus menjelaskan, bahwa saya pendeta yang berusaha menjadi penengah. Mereka tampak gembira dan menuruni tangga untuk berkenalan. Paulus menggunakan kesempatan, mengumpulkan informasi. Ini menyangkut pertengkaran tentang sebuah peristiwa kawin lari dan denda yang dituntut, yang pihak lawan menolak membayar. Pada pertengkaran itu sudah ada pukulan, dan dengan informasi ini kami melanjutkan.

Salah satu desa kami menginap, berbicara keesokan harinya mendapat kontak baik dengan pihak lawan. Kami berhasil, menenangkan suasana. Kedua belah pihak berjanji menyelesaikan perkara secara damai). Paulus terbukti sangat berharga. Dia juga memberi informasi tentang perubahan, yang dalam waktu dekat akan terjadi: lebih banyak polisi -dan itu hanya menakutkan bagi orang-orang berdarah panas - bantuan untuk orang sakit dan terluka - sekolah gratis, anak laki-laki mereka bisa belajar dan mendapat jabatan di pemerintah dan Zending/misi.

Hari ke-3 kami pulang, itu bagi saya: di mana Mieneke berada, tidak peduli di mana pun di dunia dia tinggal. Ketika berminggu-minggu kemudian saya melapor ke HPB (kepada Kepala Pemerintahan Setempat), saya mendapat teguran kesal, bahwa saya harus menjauhi 'urusan pemerintahan'. (Jawaban singkat saya: 'Moord en doodslag gaan óók mij aan als zielszorger voor vele mensen' ('Pembunuhan dan penumpahan darah juga menyangkut saya sebagai gembala jiwa bagi banyak orang')

Kehebohan besar terjadi, saat membongkar 2 kain tua Hindia sebagai hiasan dipasang. Ternyata, 'mata uang standar') di 'Vogelkop' ('Kepala Burung'): 'de Kain Timor' ('Kain Timor' - kain tenun dari Indonesia Timur). Tanpa sengaja naiklah wibawa kami, dan kami digolongkan ke kelas orang sangat kaya. Seorang penjahat bahkan mencoba membobol masuk, tapi saya masih terlatih terhadap suara malam. Saya terbangun, kaki telanjang berhenti di depan rumah kami.

Masih di bulan yang sama Residen dengan keluarganya berkunjung singkat , Saya melewatkan yang pertama, perjalanan dinas ke-2 baru kembali. Sebuah peninjauan dan berkenalan dengan rekan-rekan kerja saya adalah syarat pertama, sebelum saya bisa membuat rencana.

Posting Komentar

Posting Komentar