Bookmark

Memoar Pdt. Markus dari Teminabuan#8

132

Evangelist di Wehali bekerja dengan baik. Ada 40 anak yang siap masuk sekolah, tinggal menunggu bahan-bahan dari Inanwatan. Ke depan, mutu pendidikan di sekolah-sekolah yang belum bersubsidi juga harus ditingkatkan.

Semua hal ini akan dibahas dalam ressortvergadering (rapat wilayah) bersama seluruh Guru, Evangelisten (penginjil), dan satu-dua Kerkaadsleden (anggota majelis gereja) dari setiap kampung. D.Z.V. (Dinas Zending Veld = Dinas Lapangan Zending) harus turun tangan membantu soal bahan dan peralatan. Permintaan akan pendidikan ternyata lebih besar daripada permintaan akan Injil. Tapi pendidikan justru jadi kesempatan utama kami untuk penginjilan.

Ada anggapan romantis yang keliru, bahwa orang-orang di sini punya struktur psikologis yang berbeda dari 'bangsa yang lebih beradab'. Yang berbeda hanyalah pola dasar cara pandang mereka terhadap dunia. Magie (sihir) sangat berperan di sini, tapi soal itu belum berani saya bahas lebih jauh.

Saya dan istri justru melihat bahwa di sini juga ada orang yang skeptis dan sinis, ada yang histeris maupun neurotis — semua gejala yang biasa kita anggap sebagai 'efek samping peradaban'. Ini juga berlaku untuk penduduk pegunungan yang hampir belum bersentuhan dengan budaya Barat, meski dengan beberapa batasan. Buku Prof. Rümke "Karakter en aanleg in verband met het ongeloof" ("Watak dan Bakat dalam Kaitannya dengan Ketidakpercayaan") sangat cocok diterapkan di sini.

10 Maret

Kami berangkat pagi-pagi dari Wehali. Kaki istri saya kaku karena sepatu cadangannya belum datang. Akhirnya dia pakai sepatu jalan saya, dan saya berjalan tanpa alas kaki. Sepatu olahraga yang dipakai istri saya kemarin tidak muat di kaki saya. Perlahan rasa sakit di kakinya berkurang dan kami bisa berjalan lebih lancar. Selama masih di pegunungan, perjalanan aman. Tapi saat turun, kami berdua kesakitan karena batunya tajam dan istri saya masih terlalu kaku untuk jalan menurun.

Tepat di balik punggung bukit terakhir ada anak sungai kecil. Kami istirahat di sana. Istri saya hampir tumbang. Pemikul yang membawa makanan dan air saya kirim duluan ke Skendi untuk mencari pemikul dan draagbaar (tandu). Saya dapat kembali sepatu saya. Begitu pakai sepatu, badan saya langsung segar. Tapi kemudian hujan deras turun, jadi kami tiba di Skendi dalam keadaan basah kuyup.

Kami berteduh di rumah Kepala kampung dan melepas pakaian basah. Untung saya bawa pullover (sweater), dan istri saya punya jaket wol yang bisa langsung dipakai di kulit. Dengan begitu kami tetap agak hangat, lalu duduk di dekat api dengan celana dan rok yang masih basah.

Setelah hujan reda, kami masih harus jalan 45 menit lagi dan tiba di Teminabuan pukul 5 sore. Di Skendi kami sudah janji akan buka poliklinik lagi saat perjalanan pulang. Anak-anak seharusnya sekolah di Teminabuan, tapi ini masih sulit diwujudkan. Jaraknya terlalu jauh bagi mereka, tapi kami juga tidak bisa menempatkan sekolah dan tenaga guru terlalu berdekatan. Meski begitu, Best. Ass. (Bestuurs-Assistent = Asisten Pemerintahan) sudah memerintahkan agar anak-anak ke Teminabuan.

Setelah makan, kami naik dua prau (perahu) ke Seribau. Karena angin kencang dan pendayung harus menarik tali, kami baru sampai pukul 02.30 malam. Di perahu kami sempat tidur sebentar, dan setelah menyapa singkat, kami langsung tidur lagi. Kalau anjing tidak menggonggong, mungkin kami bisa masuk tanpa ketahuan.

11 Maret

Setelah Kerkdienst (ibadah gereja), kami buka Poliklinik untuk lebih dari 220 orang. Saat selesai hari sudah gelap, jadi harus pakai lampu. Semua orang ikut membantu agar cepat selesai, tapi sebagian besar pekerjaan tetap dikerjakan para perawat. Hanya kasus yang meragukan yang dikonsultasikan ke istri saya, yang saat itu sedang terbaring di tempat tidur karena serangan malaria.

133

Malam harinya diadakan "onderzoek" (ujian) untuk para aannemelingen (calon anggota jemaat yang mau dibaptis). Caranya begini: Guru mengajukan banyak sekali pertanyaan tentang isi Alkitab kepada para calon, lalu mereka harus menjawab satu per satu secara bergiliran.

Pertanyaan dan jawaban ini sudah dihafal di luar kepala saat catechisatie (kelas katekisasi) dan di rumah. Saya paham pentingnya pengetahuan Alkitab yang baik, tapi bagi kami, catachese (katekisasi) seharusnya lebih dari sekadar hafalan. Untungnya, sang Guru juga setuju bahwa cara ini harus segera diubah. Hanya saja, kami belum punya panduan yang cocok untuk bidang ini. Saya punya beberapa bahan, tapi tidak bisa langsung dipakai. Harus disesuaikan dan diolah dulu agar pas dengan situasi di sini.

12 Maret

Kami naik prau (perahu) sejauh mungkin menyusuri kali ke arah Haha. Lalu menyeberang daratan dengan berjalan kaki, dan lanjut naik prau lagi ke Haha. Karena sudah tiga hari berturut-turut hujan, jalannya jadi kubangan lumpur. Kami terpaksa berjalan tanpa alas kaki, hanya pakai celana pendek, tapi tetap saja tiba dengan badan penuh lumpur. Untuk menempuh 6 km di daratan ini kami butuh tiga jam, padahal istri saya sudah digendong. Karena kekurangan tenaga, dua peti terpaksa ditinggal di Seribau. Jadi total perjalanan 6 jam untuk 12 km!

Siang hari kami buka poliklinik, dan saya punya waktu menyiapkan ibadah baptisan untuk besok pagi. Menjelang gelap, Guru de Fretes dari Sisir datang untuk membantu pembaptisan.

13 Maret

Teks khotbah: Yesaya 55:1-3, Matius 5:6. Ada 10 pria dan 10 wanita dibaptis atas pengakuan iman mereka, plus 25 anak sekolah, juga atas permintaan sendiri. Anak-anak dibaptis oleh de Fretes. Saya pribadi tidak setuju dan merasa mereka terlalu muda.

Tapi kami punya peluang besar untuk menghapus kebiasaan kinderdoop (baptis anak) dengan dukungan suara mayoritas. Pelan-pelan muncul gejala khas 'volkskerk' (gereja rakyat) di jemaat-jemaat: namanya Kristen, tapi hidupnya tanpa disiplin, ditambah pemahaman sakramen yang magis. Anggapannya: 'Yang dibaptis pasti selamat.' Para Guru sendiri merasa ini harus dilawan dengan tegas.

Jadi tucht (disiplin gereja) harus jadi faktor penting — baik disiplin baptis maupun perjamuan kudus. Dalam kasus ekstrem: dicoret dari buku anggota dan dicabut hak menyandang nama Kristen.

Dalam perjalanan dinas ini, saya jelaskan ke para Guru dan Evangelisten (penginjil) mengapa saya tidak mau membaptis anak-anak. Saya tunjukkan Matius 3:1-12, Matius 13:24-30, dan Matius 25:25-40. Bahwa Baptisan tidak membebaskan dari penghakiman, itu sudut pandang baru bagi sebagian besar orang. Di sini juga disadari, harus ada pilihan: mau jadi 'Volkskerk' atau 'Gemeente van belijdende lidmaten' (Jemaat dari anggota yang mengaku iman). Karena orang-orang di sini sungguh-sungguh dengan Kekristenan mereka, saya tidak takut dengan pilihan itu.

Haha adalah kampung dengan sekitar 180 jiwa; adat masih sangat kuat. Jadi jumlah 20 orang dewasa yang dibaptis itu tidak sedikit, apalagi mereka tidak mendapat keuntungan apa pun dari keputusan ini — justru sebaliknya.

134

Beberapa orang tampak terharu, termasuk beberapa anak sekolah. Di wajah yang lain tidak terlihat apa-apa. Seorang pemuda mendaftar untuk bekerja di D.V.G. (Dienst voor Volksgezondheid = Dinas Kesehatan Rakyat). Kendalanya, dia buta huruf. Tapi dia akan mendapat pelajaran tambahan dari klerk (juru tulis) saya. Lagipula, dia rajin dan selalu ceria.

Setelah ibadah, kami makan. Lalu de Fretes dan istri saya berangkat duluan membawa sebagian besar barang. Saya tinggal bersama seorang perawat untuk menunggu peti perban yang tertinggal kemarin di Seribau dan baru tiba siang hari. Setelah cepat-cepat membalut luka, kami pun bisa berangkat. Pukul 9 malam kami tiba di Waloin, langsung makan dan tidur. Semua lelah dan lapar.

14 Maret, Waloin

Keadaan di sini kurang baik beberapa bulan terakhir. Ada kebangkitan heidendom (paganisme/kepercayaan lama) yang cukup kuat. Tapi saya belum bisa melihat jelas penyebabnya. Evangelist (penginjil) hanya mengeluh bahwa akhir-akhir ini sedikit orang datang ke gereja. Hanya anak-anak sekolah yang masih setia.

Orang-orang Wofle membiarkan sekolah tetap ada. Mereka pasti sangat bodoh atau sangat licik. Kalau bodoh, mereka tidak sadar bahwa sekolah adalah pusat pembentukan di kampung. Tapi saya tidak percaya itu. Secara umum, ada beberapa kampung yang tingkat kecerdasannya di bawah rata-rata, dan itu karena alasan sosial.

Kemungkinan kedua lebih masuk akal: mereka tidak mau menarik perhatian. Caranya, dengan menjauhkan murid-murid dari sekolah. Dengan begitu, mereka berharap bisa memaksa anak-anak masuk ke 'Rumah Pemali' (rumah adat/rumah tabu) dan tetap berada di bawah pengaruh mereka.

Yang dibaptis: 5 pria, 8 wanita, dan 34 anak sekolah.

Yang menentang: 2 dari 3 clanhoofd (kepala marga).

Sebutan Kepala kampung sebenarnya keliru, karena di setiap kampung ada beberapa kepala — sebanyak jumlah marga. Mereka lebih tepat disebut kepala marga yang punya kuasa magis, bukan penguasa sipil yang benar-benar memerintah. Mereka adalah pemegang silsilah tertua dari pendiri marga. Perintah Kepala hanya diikuti kalau orang mau.

Karena itu posisi mereka serba sulit: Pemerintah menuntut mereka menjalankan perintah, padahal mereka tidak punya kuasa pemerintahan yang nyata. Sering kali kepala marga ini sekaligus jadi medicijnmeester (dukun/tabib).

Klerk pecatan dari Slump, A. Kondoligit, tinggal di Haha dan kemarin ikut ke Waloin. Dia mengaku dapat izin dari Guru Titiheruw untuk membantu di sekolah Haha. Saya tidak bisa mengecek kebenarannya. Saya larang dia berkhotbah, dan sementara ini saya tinggalkan dia di Haha untuk menggantikan Evangelist yang pergi ke Konda seminggu untuk menikah.

Di Konda ternyata Titiheruw tidak tahu apa-apa soal izin itu. Jadi saya akan ke Seribau, tempat saya sudah memanggil orang-orang itu. Untuk sementara, Kondoligit saya tempatkan di bawah pengawasan Evangelist Haha.

Saya tidak bisa menerimanya kembali dalam dinas zending (misi), karena dia mau punya 2 istri. Kalau saya terima, bisa terjadi mogok umum para Guru dan Evangelisten. Tapi kalau sampai akhir tahun tidak ada keluhan baru, dia mungkin bisa bekerja di D.V.G.

Setelah selesai membalut luka, kami berangkat naik prau (perahu) ke Sisir, satu jam sebelum air pasang. Pukul 2 kami tiba di Sisir. D.V.G. membuka poliklinik, dan saya menyiapkan ibadah baptisan untuk besok. Teks khotbah: Matius 3:8. Inti khotbahnya adalah pertobatan dan pola hidup yang baru: Matius 25:42.

Posting Komentar

Posting Komentar