Bookmark

Memoar Pdt. Markus dari Teminabuan#47

251-253
Gambar Dari Keabadian hingga Amin oleh Pdt. Markus
1954

251
Pengelolaan Sekolah Rayon Teminabuan–Inanwatan
Eles, 25 Desember 1954
No. 579

Kepada Pengawas Umum Sekolah-sekolah Zending
Hollandia Joka

Sejak beberapa waktu telah diterima berbagai keluhan dari para penginjil dan kepala kampung di Ring Seremuk, Klasis Konda. Hal ini menjadi alasan untuk segera melakukan perjalanan inspeksi ke kampung-kampung yang bersangkutan setelah pengambilalihan tugas dari Kol. M., yaitu: Sayal, Mahambar, Sisir, dan Haha.

Dari Sayal datang keluhan bahwa anak-anak perempuan dan laki-laki yang sudah besar ditarik keluar dari sekolah agar tidak dikirim ke sekolah lanjutan. Bahkan pada bulan April, beberapa orang tua telah berusaha meracuni, atau setidaknya membuat sakit, dua orang anak perempuan yang bersekolah di Seribau pada bulan terakhir sebelum ujian masuk, sehingga mereka harus dikeluarkan dari sekolah.

Kini beberapa anak perempuan telah dinikahkan pada usia yang terlalu muda, dan anak-anak laki-laki ditarik dari sekolah. Keluhan ini disampaikan secara umum. Kita memang tidak akan pernah memperoleh pendeta yang sempurna, tetapi dalam hal ini kita harus tetap berpegang pada prinsip yang telah ada.

Karena perahu motor telah berhasil ditarik kembali dari Sorong dalam keadaan yang cukup baik, diputuskan untuk menyelidiki semua keluhan tersebut secepat mungkin.

8 Desember

Berangkat dari kantor dengan kapal “Kabar Kesukaan” menuju Sayal. Tiba sesaat sebelum gelap. Pada malam hari berbicara dengan para kepala kampung. Kepala kampung yang lama menentang sejauh yang ia berani. Kepala kampung yang baru, Daud, selama setahun terakhir tidak memperoleh dukungan moral karena tidak pernah dikunjungi.

Keadaan kampung mengalami kemunduran; jumlah rumah berkurang dan banyak orang berminggu-minggu tinggal di hutan. Segera setelah pengambilalihan tugas dan setelah saya kembali ke Teminabuan, saya telah mengirim surat teguran dan ternyata surat itu membantu. Sebagian anak-anak telah kembali ke sekolah sehingga jumlah murid kembali menjadi 41 orang.

Keluhan yang disampaikan:

“Kami seperti anak yatim piatu dan tidak ada seorang pun yang memperhatikan kami.”

Akibatnya keadaan jemaat pun menjadi kurang baik. Dari 44 orang dewasa, hanya 20 yang menghadiri pelajaran katekisasi. Permohonan untuk pengukuhan sebagai anggota jemaat karena itu ditolak.

9 Desember

Keesokan harinya diadakan kebaktian dan administrasi sekolah diperiksa. Kegiatan belajar berjalan sesuai jadwal Sekolah Rakyat.

Satu anak laki-laki tahun lalu lulus dan diterima di JVVS Teminabuan. Dua anak laki-laki lainnya telah siap, tetapi ditarik kembali oleh orang tua mereka. Dua anak perempuan yang sakit karena makanan yang diberikan oleh ibu-ibu mereka juga dibawa pulang ke kampung.

Dengan demikian, total ada lima murid yang sebenarnya telah mencapai tingkat sekolah rakyat yang baik.

Peralatan belajar masih belum mencukupi, meskipun berkat sumbangan dari Dana Deventer, situasinya telah jauh membaik.

Secara ringkas tersedia:
Satu set buku pedoman Sendi Hitungan dan Sendi Hitungan IV.

Penginjil yang bertugas tidak berada di bawah standar rata-rata guru VGI asal Ambon.

Namun Klasis Ketua menutup mata terhadap kenyataan bahwa penginjil tersebut telah diberitahu bahwa ia tidak perlu menyetor KPP dan KBP, dan bahwa anak-anak yang dipersiapkannya untuk mengikuti ujian masuk sekolah VVS harus dikirim ke Konda, bukan ke tempat lain.

Hal ini tidak menguntungkan bagi anak-anak maupun sekolah. Karena itu, ia telah menerima petunjuk mengenai cara melakukan administrasi yang benar.


252

Pada sore hari kami menuju Mahambar. Di sana keluhannya adalah bahwa tidak ada kemajuan di sekolah karena belum ada satu pun anak yang diterima di JVVS.

Jadi di sini justru kebalikannya. Pada malam hari kami juga berbicara dengan para kepala kampung dan majelis gereja. Pada dasarnya keluhannya sama seperti di Saijal, yaitu bahwa masyarakat menganggap penginjil terlalu memanjakan mereka.

Karena itu, keesokan paginya dilakukan inspeksi sekolah secara menyeluruh.

Keadaan kampung ternyata tidak membaik. BB tidak berbuat apa-apa untuk memindahkan penduduk ini ke tempat tinggal yang lebih baik. Rumah-rumah dalam kondisi buruk, kampung kotor, malaria banyak terjadi, dan sebuah mata air mengalir tepat di bawah kampung. Namun mereka tidak ingin tinggal bersama penduduk Saijal karena, menurut mereka, para perempuan akan sering bertengkar. Sebenarnya itu hanya alasan yang dibuat-buat, sebab mereka memang tidak berminat untuk pindah.

Saya mengalami kesulitan menjalin komunikasi dengan penduduk. Mereka semua tertutup, menjawab sesingkat mungkin, dan setiap penjelasan harus dipancing sedikit demi sedikit.

Masih ada para dukun atau tokoh pengobatan tradisional yang aktif di kampung ini. Secara resmi mereka memang Kristen karena semua telah dibaptis. Namun kini, terutama setelah penghapusan praktik Kain-Timur, yang juga mulai menampakkan pengaruhnya di Mahambar, mereka kembali memperoleh ruang untuk menunjukkan kekuatan mereka sepenuhnya.

Kampung ini dihuni oleh suatu klan yang memisahkan diri dari Mugim-Jahadian.

Di sini pun pengukuhan anggota jemaat ditunda, setidaknya sampai tahun 1956.

Saya cukup menyesal bahwa pada tahun 1951 saya membaptis mereka atas saran Titiheruw.

10 Desember – INSPEKSI SEKOLAH

Atas petunjuk Titiheruw, hanya ada dua kelas. Kelas I tidak dibuka untuk sementara waktu (karena berkaitan dengan masa kerja wajib/gotong royong).

Kelas II memberikan kesan yang baik.

Jumlah murid seluruhnya adalah 3 anak perempuan dan 37 anak laki-laki. Jadi masih banyak anak perempuan yang ditahan untuk tinggal di hutan bersama keluarga mereka. Sekolah ini seharusnya memiliki sedikitnya 70 murid.

Nilai pelajaran:
  • Membaca: Mata Hari Terbit rata-rata 6, nilai tidak memadai 3 (paragraf 11)
  • Berhitung: Sendi Hitungan III (paragraf 5 dan 7) rata-rata 5½
  • Menulis: rata-rata 5½
  • Dikte: rata-rata 7

Kelas yang terdiri dari 14 murid ini perlu dibagi, karena sebagian murid sudah cukup baik untuk masuk ke Kelas III Sekolah Rakyat.

Keadaan sekolah secara umum baik. Pembagian kelas yang ada adalah:

  • Kelas III: 10 murid
  • Kelas II dan I: 34 murid

Sedangkan Kelas 0 (7 murid) seharusnya dihitung sebagai Kelas I. Saat ini tercatat 41 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Instruksi telah diberikan mengenai pemisahan Kelas I dan Kelas II.

Kemudian kami berangkat menuju Haha.

Di Sisir hanya dilakukan inspeksi dan diumumkan akan diadakan rapat wilayah (Ringvergadering). Perahu ditambatkan sesaat sebelum hari gelap.

Di sini pun keadaannya jauh dari menggembirakan.

Penduduk memiliki banyak pekerjaan untuk BB. Ketika mereka dibebaskan lebih awal oleh HBA di Konda pada bulan Desember untuk mempersiapkan perayaan Natal, mereka dikabarkan berkata:

"Saya tidak mengenal hari seperti itu; jika kalian mendengar bahwa besok Natal, maka kalian boleh libur."

Berita itu sebenarnya tidak terlalu dapat dipercaya karena pembawa beritanya tidak dikenal sebagai orang yang dapat diandalkan. Namun kenyataannya, orang-orang memang masih bekerja di mana-mana karena mereka harus bekerja.

Ada seorang kepala kampung yang baru dan ia mendukung penginjil semampunya.

Partisipasi dalam pelajaran katekisasi sangat rendah, demikian juga kehadiran dalam kebaktian gereja.

Meskipun demikian, sebuah gedung sekolah-gereja yang besar telah dibangun dengan ukuran 12 × 18 meter.


253

INSPEKSI SEKOLAH

Gedung sekolah terlalu gelap. Perintah telah diberikan untuk melakukan perbaikan.

Kelas III

Membaca: MHT-I, Paragraf 6: rata-rata 6 (3 siswa tidak memadai)

Berhitung: S.H. III, Paragraf 10 dan 8: rata-rata 7 (1 siswa tidak memadai)

Menulis: rata-rata 6

Dikte: rata-rata 4 (4 sangat baik, 5 sangat buruk)

Satu anak perempuan dan tiga anak laki-laki memiliki peluang baik untuk lulus ujian masuk. Artinya, mereka masih muda, cerdas, dan telah mencapai tingkat kemampuan murid Sekolah Rakyat yang baik.

Kelas II

Sangat sedang-sedang saja. Hal ini merupakan akibat dari administrasi yang buruk sehingga beberapa bagian pelajaran terlewatkan. (Mereka tidak mampu mengeja dengan baik dan tidak dapat membaca tanda baca.)

Penginjil telah diberi petunjuk mengenai pengajaran membaca untuk kelas pertama dan pengajaran berhitung, karena di situlah letak kesulitannya, sebagaimana juga terjadi di sebagian besar sekolah lainnya.

Terdapat 70 anak yang bersekolah. Sekolah terawat rapi dan anak-anak bersih. Peralatan belajar, mengingat usia sebagian besar buku, masih dalam kondisi cukup baik.

Namun masih terdapat kekurangan:

  • 30 buah batu tulis,
  • 10 buku Itu Dia,
  • masing-masing satu set buku pedoman Sendi Hitungan dan S.H. IV.

Nyanyian berjalan baik, tetapi penginjil sendiri tidak cukup memahami cara membawakan lagu-lagu yang diajarkannya kepada anak-anak.

Dengan pengawasan yang lebih baik dan penyediaan alat belajar yang sedikit lebih memadai, sekolah-sekolah di Saijal, Mahambar, dan Haha dapat dengan mudah mencapai standar Sekolah Rakyat biasa untuk semua kelas. Saat ini, di sebagian besar tempat hanya kelas tiga yang telah mencapai standar tersebut.

Pada sore hari berangkat ke Sisir dengan perahu-perahu milik para penginjil dari Haha dan Waloin yang ditarik oleh kapal.

Pada malam hari, istri saya memberikan penyuluhan kesehatan kepada para guru dan penginjil. Setelah itu dibahas administrasi sekolah dan hasil-hasil inspeksi. Dalam inspeksi tersebut ditetapkan standar-standar yang digunakan oleh Pengawas Sekolah untuk Sekolah Rakyat di Inanwatan.

12 Desember

Diadakan rapat wilayah (Ringvergadering) dengan seluruh guru, penginjil, dan penatua jemaat. Semua kepala kampung diundang sebagai tamu.

Pembahasan berkaitan dengan urusan-urusan gerejawi.

13 Desember

Kapal motor berangkat ke Konda untuk mengambil pasir bagi VVS (Rumah H. Westerbaan).

INSPEKSI SEKOLAH

Catatan Umum
  1. Sekolah rapi dan atapnya baik. Namun pencahayaan masih kurang memadai.
  2. Anak-anak bersih. Kondisi kesehatan cukup baik; hanya sedikit luka berkat pelayanan Njora, yang pernah bekerja di rumah sakit Serui.
  3. Peralatan belajar cukup dan terawat baik.
    • Batu tulis baru tidak digunakan.
    • Kelas pertama masih menggunakan batu tulis yang sudah pecah dan rusak.
    • Peraturan mengenai kebersihan dan kerapian yang berlaku di Terang, Tiantik, dan Tjepat tidak dipatuhi.
  4. Pensil dan tempat pena tidak digunakan.
  5. Di semua kelas, tempo kerja terlalu lambat.
Posting Komentar

Posting Komentar