Bookmark

Memoar Pdt. Markus dari Teminabuan#48

254-257
Gambar Dari Keabadian hingga Amin oleh Pdt. Markus
1954
254

Hasil Penilaian

Kelas I
  • Menulis: rata-rata 2½
  • Membaca: rata-rata 1½
  • Berhitung: rata-rata 0
Kelas II
  • Menulis: rata-rata 3
  • Membaca: rata-rata 4½
  • Berhitung: rata-rata 0
  • Bahasa Indonesia: rata-rata 3
Kelas III
  • Menulis: rata-rata 5
  • Membaca: rata-rata 5
  • Berhitung: rata-rata 4½
  • Bahasa Indonesia: rata-rata 3
Membaca
  • Kelas II: Tjahaja I, paragraf 9
  • Kelas III: Mata Hari I, paragraf 8
  • Kelas I: Itu Dia I, halaman 12
Berhitung
  • Sendi Hitungan III, paragraf 8 dan 9
  • Sendi Hitungan III, paragraf 6
Bernyanyi sangat baik!

Murid-murid yang tidak mampu mengikuti pelajaran di kelas tiga dikembalikan ke kelas dua; demikian pula mereka yang tidak mampu mengikuti pelajaran di kelas dua dikembalikan ke kelas yang lebih rendah.

Sejumlah nama dihapus dari buku induk sekolah, tetapi mereka masih boleh tetap hadir sebagai pendengar. Kepala sekolah menerima petunjuk untuk memperbaiki administrasinya dan telah dijanjikan penempatan tenaga tambahan mulai 1 Januari 1955. Sebelum itu ia juga harus melengkapi alat-alat pelajarannya (papan baca untuk Itu Dia).

Ia belum pernah mempelajari satu pun buku pedoman mengajar dan tampaknya menganggap dirinya sudah cukup terampil karena memiliki ijazah V.O.. Melalui inspeksi ini ia menjadi sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam pengetahuan dan pekerjaannya.

Kelas pertama dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 25 anak (total 41 murid dan 9 pendengar).

Masih kurang 30 bangku sekolah dengan kapasitas dua murid per bangku.

Saat pemeriksaan ditemukan bahwa guru tersebut pada bulan September dipanggil ke Ajamaroe oleh D.T.C. Ajamaroe, tanpa pemberitahuan kepada R.S.B., meskipun telah ada surat edaran dari Komandan Korps kepada seluruh DTC.

Ia berangkat pada 5 September setelah kebaktian gereja, tiba di Ajamaroe pada Selasa pagi, memberikan kesaksian pada Rabu pagi, dan segera setelah itu berangkat pulang hingga tiba di tempat tugasnya pada 12 September.

Ia tidak menerima uang kesaksian maupun penggantian biaya perjalanan untuk perahu dan para pengangkut barang.

Perhitungannya:

  • 8 hari × 2 kuli × Æ’1,-
  • 1 perahu × Æ’0,50
  • 8 hari gaji harian Kelas VX

Saya ingin memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai hal ini dari A.S.B.

Pada malam hari, saat air pasang, berangkat menuju Konda dengan perahu.

14 Desember – Inspeksi Sekolah di Konda

Catatan Umum
  1. Sekolah memiliki lantai semen yang bagus. Selain itu, sekolah, perabotan, alat pelajaran, dan murid-muridnya semuanya bersih.
  2. Peralatan belajar cukup, mengikuti standar Oesman I.
  3. Titiheruw mengajukan permohonan pemeriksaan kesehatan/pensiun karena merasa dirinya sudah terlalu tua.
  4. Dengan laporan pemeriksaan tersebut ia ingin mengajukan tunjangan tambahan, karena ia tidak dapat hidup hanya dengan gaji Æ’25 per bulan. Ia telah memiliki 36 tahun masa kerja.

Perahu motor kemudian dijemput kembali dari Konda.

Tidak ada satu pun pasir yang berhasil diperoleh, karena Asisten Administrasi tidak melaksanakan petunjuk dari Kepala Pemerintahan Setempat.

Dalam perjalanan pulang, dua perahu bermuatan pasir diambil dan ditarik ke Teminabuan, kemudian kapal kembali lagi untuk mengambil perahu ketiga.


255

14–18 Desember

Melakukan pekerjaan kantor. Sejak tahun 1950, beban pekerjaan administratif meningkat sekitar 50–75%. Pekerjaan itu sendiri berkembang seperti noda minyak yang terus melebar. Setiap bulan terdapat 2–3 permohonan untuk menerima penginjil baru. Sangat sulit untuk menolak sebagian besar permohonan tersebut karena keterbatasan dana dan/atau tenaga. Dalam hal ini misi memperoleh manfaat. Dana tetap memang terus masuk. Gaji pegawai tetap telah dinaikkan cukup besar, tetapi semakin banyak uang yang diperoleh orang, semakin banyak pula yang mereka rasa kurang.

19 Desember

Persiapan perjalanan dinas. Hal itu harus dilakukan pada hari Minggu karena dengan jam kerja 10–12 jam per hari, tidak ada waktu yang tersisa untuk melakukannya.

Jumlah pengangkut barang dari Eles terlalu sedikit, sehingga harus segera dipanggil seorang anggota jemaat dari Skendi.

Dari Kami, sebagaimana juga dari Skendi—sebuah jemaat yang dibaptis menurut prinsip-prinsip kami—datang kabar bahwa mereka telah membuka tiga kebun untuk kepentingan gereja. Belum terlihat hasil nyata berupa lantai beton, tetapi hasilnya sudah tampak dalam pelayanan penginjilan dan kegiatan lainnya. Sepertiga hasil panen telah dipetik dan total hasilnya diperkirakan mencapai Æ’1.000.

Semakin lama para peserta katekisasi dan anggota jemaat bekerja di kebun bersama untuk mendukung dana gereja, semakin sedikit orang yang hanya datang mengikuti katekisasi tanpa ikut bekerja bagi kepentingan bersama. Sikap seperti ini juga diajarkan kepada anak-anak sekolah.

Persembahan gereja meningkat. (Buah dari sebuah percakapan dengan seorang pendeta Hongaria yang pernah saya temui di kapal De Horst.) Kini juga tersedia dana gereja pada hari Minggu bagi mereka yang ingin memberi tetapi tidak memiliki uang. Mereka dapat mempersembahkan hasil kebun yang kemudian dibeli oleh para guru, rumah sakit, polisi, atau sekolah lanjutan.

Masih tetap kekurangan tenaga pengangkut. Hari kerja bakti dan pembersihan telah diadakan. Tampaknya hal ini terlalu sering dilakukan. Anak-anak yang kami miliki sekarang masih harus membantu di rumah, bersekolah sampai pukul empat sore, dan setelah itu juga memerlukan waktu untuk bermain.

Ada undangan dari Fuog untuk merayakan Natal di sana. Namun hal itu tidak sesuai dengan jadwal perjalanan dan rencana Westerbaan, yang terlebih dahulu akan pergi bersama kami ke Eles. Karena itu saya memutuskan untuk mewakili mereka di Fuog.

21 Desember

Berjalan kaki menuju Eles. Medannya tetap berat dan baik istri saya maupun saya sendiri tidak cukup bugar. Saya harus membatalkan rencana untuk pergi ke Sedefojo dan Sasenek.

Guru di sana telah membangun rumah baru. Ia hampir tidak memperoleh bantuan kerja bakti dari penduduk kampung. Pekerjaan lainnya juga banyak yang terbengkalai, sebagaimana terlihat jelas saat inspeksi sekolah keesokan harinya.

Tempat ini tetap menjadi lokasi yang sulit, baik untuk sekolah maupun untuk penginjilan. Hanya jika anak-anak dapat dipertahankan untuk tetap mengikuti sekolah dan katekisasi setelah jam sekolah berakhir, maka suatu inti masyarakat Kristen dapat terbentuk.

Hanya sedikit orang tua yang rutin hadir dalam kebaktian gereja (sekitar 25% dari seluruh penduduk, dan dari jumlah itu sekitar dua pertiganya adalah anak-anak sekolah).

23 Desember

Sepanjang hari bekerja menata administrasi sekolah agar guru tidak mengalami

Sepanjang hari bekerja menata administrasi sekolah agar guru tidak mengalami kesulitan ketika inspeksi pendidikan dilakukan.

Saya sendiri pergi ke Sasenek, karena penginjil di sana sedang sakit dan tidak dapat datang. Malam harinya digunakan untuk menyelidiki berbagai pantangan adat (tabu) yang berkaitan dengan kelahiran dan pemberian nama anak.

24 Desember

Administrasi sekolah dan alat-alat pelajaran berhasil ditata dengan baik. Guru diberikan pelajaran mengenai cara menggunakan dan melengkapi bahan-bahan pengajarannya.


256

Buku-buku pedoman tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh; hal ini berlaku hampir di semua sekolah. Guru-guru yang lebih tua merasa bahwa mereka sudah cukup tahu, karena mereka telah lama mengajar. Sementara itu, guru-guru yang lebih muda merasa dirinya sudah cukup mampu karena memiliki ijazah. Karena pengetahuan mereka jauh lebih tinggi daripada masyarakat kampung yang umumnya masih buta huruf, mereka sulit memahami bahwa apa yang mereka ketahui sebenarnya hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan ilmu yang ada.

25 Desember

Diadakan kebaktian gereja, kemudian berbicara dengan para guru dan penginjil mengenai kesalahan-kesalahan dalam cara mereka bekerja.

Guru dari Sedefojo dan istrinya harus tetap tinggal karena keduanya sedang sakit.

26 Desember

Setelah pelayanan poliklinik, berbicara dengan para guru mengenai tarian dan bagaimana mereka harus menghadapi unsur-unsur yang terus bertahan dan ingin mempertahankan keadaan lama.

Tentu masih banyak orang yang tidak menerima perubahan-perubahan yang terjadi (termasuk penghapusan Kain Timur) dan berusaha sedapat mungkin menghambat hasil-hasil yang telah dicapai.

Para pemimpin kelompok ini masih merupakan tokoh-tokoh lama dari daerah Eles–Sedefojo–Teminabuan dan Seribau, yaitu orang-orang yang tidak pernah menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi mereka.

Pada malam hari diadakan perayaan Natal bagi anak-anak dari Eles, Sedefojo, Sasenek, dan seorang anak dari Wehali. Hampir 600 orang hadir di gereja.

Ibadah dipimpin oleh penginjil dari Sosenek, yang berkhotbah dalam bahasa daerah setempat.

27 Desember – Rapat Wilayah (Ringvergadering)

Ketua Gereja yang baru juga tidak memiliki keberatan terhadap hal ini.

Majelis jemaat Sasenek serta para guru dari Eles dan Sedefojo, bersama penginjil dari Wehali, akan memberikan konfirmasi tertulis mengenai hal tersebut.

Pembahasan kemudian beralih kepada katekisasi. Setelah ditanyakan, ternyata tidak seorang pun dari yang hadir memiliki pengetahuan yang memadai mengenai surat-surat Paulus.

Karena itu, mereka sering tidak mengetahui bagaimana menghadapi masalah-masalah yang dialami jemaat muda, seperti:

  • memakan daging persembahan,
  • ikut serta dalam pesta-pesta ritual adat lainnya.

Setiap orang kini mendapat tugas untuk mempelajari surat-surat tersebut.

Pembicaraan terutama berfokus pada nyanyian gereja, administrasi keuangan yang masuk, dan penyusunan anggaran wilayah pelayanan untuk tahun 1955.

Pada siang hari saya berbicara dengan para guru dari Eles dan Sedefojo mengenai perkawinan.

Mereka masih terlalu dipengaruhi oleh anggapan bahwa suami adalah "tuan" dan "penguasa" atas istrinya. Karena itu, mereka diajar menggunakan teks-teks Alkitab yang relevan dari Kitab Kejadian.

Buku karya Teutscher, Pernikahan Terancam (Pernikahan dalam Bahaya), menurut saya telah menimbulkan banyak kesalahpahaman. Akibatnya, kedua guru tersebut sering menolak saran-saran baik yang diberikan oleh istri mereka mengenai pekerjaan sekolah dan kehidupan jemaat, hanya karena saran itu berasal dari perempuan.

Menurut mereka, perempuan seharusnya diam dalam jemaat.

Catatan: Dalam rapat wilayah ini juga dibahas keputusan yang telah diambil di Sisir.

Diputuskan bahwa menari tidak diperbolehkan bagi anggota jemaat yang telah diterima maupun para peserta katekisasi.

Sanksi tidak dapat diterapkan kepada para peserta katekisasi.

Namun anggota jemaat yang telah diterima berada di bawah disiplin gereja.

28 Desember

Berjalan kaki menuju Sauf. Dua orang pengangkut barang, istri saya, dan dua anak sekolah yang sakit membuat perjalanan kami tidak cepat.

Para pengangkut barang mulai terserang malaria, demikian pula istri saya, sehingga kami hanya dapat bermalam di Sauf.


257

29 Desember

Di Ajamaru diputuskan untuk tidak pergi ke Sea. Sementara itu saya mengalami eksim dan kedua kaki saya penuh luka. Di kantor H.P.B. urusan keuangan diselesaikan, gaji-gaji diatur, dan perlengkapan pelajaran yang diterima dicatat, yang ternyata telah dilaporkan secara keliru ke Ajamaru. Bersama H.P.B. diajukan daftar semua sekolah di wilayah ini, baik yang mendapat subsidi maupun yang tidak, dan juga kembali diajukan permohonan subsidi untuk Fuog.

Sampai saat ini Inspeksi Pendidikan berhasil mempertahankan keberadaannya meskipun terus-menerus harus mengatasi kesulitan-kesulitan baru, walaupun telah mendapat nasihat yang baik dari Residen dan H.P.B.

30 Desember

Sampai siang hari berjaga di rumah penginjil di Sererare yang tiba-tiba menjadi tidak waras ketika kami sedang sarapan. Setelah itu beristirahat.

Pada malam hari berbicara dengan H.P.B., dr. van der Hoeven, dan Miss Malcolm mengenai masalah gizi. Dr. van der Hoeven dan Miss Malcolm berada di sini untuk meneliti secara khusus keadaan gizi anak-anak pada bulan-bulan dan tahun-tahun pertama kehidupan mereka. Namun untuk itu mereka juga perlu memahami sampai tingkat tertentu berbagai tabu atau pantangan adat yang berkaitan dengan makanan. Mereka memang membawa laporan etnolog Swedia, Elmberg (yang tahun lalu melakukan penelitian di sini), tetapi laporan tersebut justru sangat tidak lengkap dalam hal ini.

Laporan itu dahulu telah diserahkan di Hollandia, tetapi baik Residen maupun H.P.B. tidak pernah menerima salinannya. Saya cukup beruntung dapat meminjam laporan itu selama satu hari, sehingga keesokan harinya dari pagi hingga malam saya mempelajarinya dengan saksama, sebagian untuk mengetahui hal-hal yang belum saya ketahui dan sebagian lagi untuk mengkritisi bagian-bagian yang menurut saya tidak tepat.

Setelah kebaktian gereja, perayaan malam pergantian tahun diadakan bersama semua orang Eropa yang ada di sana.

Posting Komentar

Posting Komentar