
DARI LAPORAN TAHUNAN tahun 1954
dari
Doopsgezinde Vereniging tot Evangelieverbreiding
(Asosiasi Menonit untuk Penyebaran Injil).
NUGINI BELANDA (NIEUW-GUINEA).
Laporan perjalanan berkala dari Ds. R.E.H. Marcus telah diterima. Jumlah guru yang tersedia terlalu sedikit, terutama di pedalaman, hal ini membuat misionaris kami khawatir. Sekolah-sekolah di pesisir pantai rata-rata memiliki 65 murid dan 1 tenaga pengajar per 45 murid, sedangkan di pedalaman rata-rata memiliki 62 murid dan 1 tenaga pengajar per 52 murid. Namun demikian, anak-anak lelaki yang berasal dari daerah pegunungan menunjukkan hasil yang tidak kalah baiknya sebagai murid di V.V.S. di Teminabuan. Di pesisir pantai, sekolah-sekolah dikunjungi oleh 1.500 anak, padahal jumlahnya bisa mencapai 2.000 anak; di pedalaman sebanyak 1.200 anak, padahal bisa mencapai 3.500 anak.
Ds. P. Messie mengirimkan sebuah laporan ekstensif, di mana ia meneliti bagaimana masyarakat di wilayah Inanwatan selama bertahun-tahun telah memeluk agama Kristen. Sejauh laporan ini secara langsung menyoroti situasi di wilayah Resor (Ressort) dan pekerjaan misionaris kami, berikut adalah ringkasan singkatnya.
'Jemaat-jemaat di wilayah Resor ini, kecuali di daerah Negeri-Besar, semuanya merupakan jemaat yang lebih tua. Antara tahun 1915 hingga 1925, para guru datang ke sini dan seiring berjalannya waktu, sejumlah besar orang di kampung-kampung dibaptis, sehingga saat ini hampir seluruh penduduk sebuah kampung menjadi anggota Jemaat. Sebuah tradisi Kristen telah tercipta: semua anak dibaptis, semua pernikahan diteguhkan secara gerejawi, sebagian besar orang datang dengan teratur satu atau dua kali setiap hari Minggu ke gereja, dan saat ada yang meninggal dunia, diadakan upacara pemakaman singkat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa di kampung-kampung Kristen, gereja secara praktis mendampingi semua orang dalam perjalanan hidup mereka'.
Setelah pengantar ini, Ds. Messie menyampaikan kepada kita bagaimana jemaat-jemaat Kristen tersebut terbentuk, untuk kemudian mengajukan pertanyaan: 'Apakah Injil saat ini benar-benar telah menemukan tempat di hati masyarakat dan dapatkah kita mengatakan bahwa jemaat-jemaat Kristen yang masih muda telah tumbuh di sini, tanpa terbebani oleh tradisi-tradisi Kristen Eropa, dan bahkan mungkin mampu menjadi inspirasi bagi gereja-gereja yang lebih tua di Eropa?' Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara singkat dengan ya atau tidak. Faktanya adalah bahwa berbagai adat istiadat kafir tampaknya masih tetap subur, begitu pula dengan kepercayaan pada roh-roh jahat; Alkitab terkadang harus digunakan untuk mengusir roh seperti itu. 'Sihir putih dan hitam masih terus dipraktikkan dan takhayul tumbuh subur dalam berbagai cara'. Terhadap hal ini, sang misionaris menyatakan 'bahwa dalam masyarakat Barat kita, jemaat-jemaat berada di bawah pengaruh berhala-berhala lain, antara lain Mamon, sebuah berhala yang di wilayah resor ini pastinya belum menghancurkan jiwa-jiwa'.
Ds. Messie menyimpulkan, 'bahwa kriteria kita dalam menilai situasi di Resor ini dan dalam menjawab pertanyaan: apakah di sini sudah ada jemaat Kristus atau belum, tidak dipinjam dari budaya Barat, melainkan dari Alkitab. "Jemaat" adalah tempat di mana Kristus ingin tinggal bersama para pendosa, dan dosa memanifestasikan dirinya pada bangsa Barat dengan cara yang lain, yang berbeda dari bangsa Timur'.
Misionaris kita mengakhiri dengan kata-kata: 'Saya percaya bahwa pengaruh Kristus benar-benar ada, bahwa ada orang-orang yang benar-benar bertanya tentang Dia. Saya rasa saya bahkan tahu pasti tentang hal itu. Jemaat itu ada di sini, meskipun dalam ketersembunyian. Semoga Tuhan juga menggunakan jemaat di sini sebagai tanda dari Kerajaan-Nya. Menurut janji Tuhan, jemaat itu sudah ada. Dalam segala keheningan, tetapi dengan cara inilah tanda-tanda Kerajaan-Nya di dunia ini mungkin sedang ditegakkan'.
Para guru-injil (De guru-evangelisten).
Ds. Messie mencatat bahwa terlalu banyak hal yang dituntut dari mereka. 'Sebagian besar dari mereka mengenyam pendidikan yang terlalu singkat. Di samping tugas mereka sebagai pengajar, tidak ada waktu tersisa untuk kunjungan rumah dan pelayanan pastoral. Terlebih lagi, mereka harus berkhotbah setiap minggu, melakukan kerja tangan dan berkebun bersama anak-anak sekolah, serta mampu memimpin perbaikan dan pembangunan sekolah dan gereja'. Misionaris kita telah mencoba, antara lain melalui pembahasan Alkitab dengan para guru, untuk 'sedikit meningkatkan mutu khotbah'. Tampaknya di sana-sini terlihat adanya beberapa perbaikan: khotbah-khotbah menjadi sedikit lebih pendek, bahasanya tidak terlalu berbelit-belit (muluk-muluk), sementara mereka mencoba untuk lebih menyesuaikan diri dengan kemampuan pemahaman dan imajinasi jemaat, antara lain dengan menggunakan contoh-contoh yang diambil dari kehidupan sehari-hari'. Melalui kursus kader dan majalah resor, ia ingin menjadikan para guru dan penginjil sebagai orang-orang yang lebih merenungkan isi Alkitab.
Di antara para guru-injil di Resor Ds. Marcus, guru darurat asal Ambon bernama Tanamal layak mendapatkan sebutan kehormatan. Ia bekerja di Fuog, sebuah pos yang terpencil dan sulit, serta mengasuh delapan anak angkat yang dibiayainya dari penghasilannya yang kecil. Ia juga berhasil membuka dua ladang padi besar sepenuhnya sendirian. Demikianlah yang dilaporkan oleh Br. Westerbaan dalam laporan perjalanannya, yang ia lakukan di pedalaman untuk membantu Ds. Marcus selama liburan Natal.
Fungsi R.S.B. (R.S.B.-functie).
Ds. Messie menganggap tugas pelayanan sebagai pendeta misionaris di Nugini Belanda secara prinsip bertentangan dengan fungsi R.S.B. dan oleh karena itu ia merasa harus mengundurkan diri dari fungsi tersebut, yang tentunya tidak sepenuhnya disetujui oleh pengurus misi. Bagaimanapun juga, fungsi ini merupakan bagian esensial dari pekerjaan misi, dan seorang pegawai pemerintah dianggap tidak akan dapat memperhatikan kepentingan gerejawi dengan baik.
Perlu dipertimbangkan lebih lanjut apakah tugas di kedua wilayah ini dapat kembali dibebankan sepenuhnya ke pundak Ds. Marcus. Ds. Marcus sendiri menyampaikan harapannya bahwa pekerjaan ini pada waktunya dapat diserahkan ke tangan seorang guru (pengajar).
Pada bagian akhir laporannya, Ds. Messie menyampaikan peristiwa-peristiwa terpenting di bidang gerejawi, yaitu proto-sinode di Serui dan penyusunan rancangan tata gereja. Kedua utusan Injil (zending) kita telah ikut serta dan bekerja sama dalam hal ini. Para pendeta Papua yang memimpin dari Gereja Kristen Injili yang sedang bertumbuh tersebut telah menyatakan dukungannya bagi kemandirian gereja di Nugini (New Guinea).
E.C.K. (Gereja Kristen Injili) didirikan berdasarkan Efesus 2:20. Rancangan tata gereja memiliki karakter sinodal-presbiterial. Baptisan dewasa telah digantikan oleh baptisan anak-anak. Bagi kami, pengakuan iman tetap menjadi titik krusial yang mendasar; masyarakat setempat sangat menghargai hal ini, sehingga kita harus menerimanya. Kami yakin bahwa para utusan Injil kita, dengan segala semangat oumenisnya, sedapat mungkin berupaya agar pemikiran-pemikiran Anabaptis (Doperse) tentang persaudaraan, baptisan, dan pengakuan iman pribadi dapat terwujud dengan baik. Berkaitan dengan hal ini, mereka memberikan penekanan besar pada pendekatan pribadi terhadap manusia serta persiapan yang matang menuju Baptisan dan Pengakuan Iman.
Rancangan tata gereja tersebut segera diberlakukan, sehingga kepemimpinan Wilayah (Ressort) saat ini dipercayakan kepada Sinode Wilayah. Terdapat Pengurus Harian yang telah bersidang beberapa kali, dan tampaknya Wilayah tersebut dapat berdiri sendiri dengan sangat baik. Ds. Messie berpendapat bahwa begitu tata gereja ini juga telah meresap hingga ke 'dasar gereja', kita akan menjadi jauh lebih dekat dengan sejumlah 'jemaat' yang hidup di Wilayah tersebut. Tantangannya sekarang adalah bagaimana pemikiran-pemikiran yang mendasari rancangan tata gereja itu dapat diterima di jemaat-jemaat. Ia memperkirakan akan ada beberapa kesulitan, khususnya dari pihak para guru (guru jemaat) Ambon yang lebih tua. Namun, mereka melakukan upaya terbaik mereka untuk 'menyesuaikan diri'.
Untuk 'E.C.K.', orang-orang yang memenuhi syarat di Wilayah tersebut belum dapat direkrut dari kalangan gembala/pemimpin Papua. Oleh karena itu, dalam dewan pimpinan (moderamen) hanya ada satu orang pemimpin Papua yang duduk, sementara semua yang lainnya adalah orang Ambon. Merekalah yang memegang kendali. Misi kita (zending) mencoba meyakinkan mereka untuk menanggalkan rasa superioritas budaya mereka terhadap orang Papua.
Semangat dari 'gerakan kepemudaan' (jeugdbeweging) juga dirasakan hilang secara menyakitkan.
Akhirnya, Ds. Messie menunjukkan pekerjaan di kalangan perempuan dan anak-anak perempuan, yang dimulai oleh Ny. Messie dengan bantuan seorang Njora (Nyonya) di Inanwatan, dan pekerjaan tersebut juga telah diperluas ke kampung-kampung lainnya. Selain perawatan rumah dan pakaian serta pengajaran higienitas (kebersihan), pemahaman Alkitab (pendalaman Alkitab) juga diadakan. Demikianlah akhir dari laporan Ds. Messie.
Di samping itu, dapat dicatat juga bahwa pada Pertemuan Kelompok Kontak dari Para Pekerja Misi Belanda (Nederlandse Zendingsarbeiders) yang diadakan pada bulan September 1954 di Serui, terdapat pandangan bahwa selain kegiatan klub yang menjangkau anak-anak perempuan dan perempuan yang telah menikah, juga harus ada pengawasan medis yang lebih baik di sekolah-sekolah.
Ny. Marcus sudah aktif bekerja ke arah tersebut dengan mengadakan poliklinik di sekolah-sekolah dan memberikan penyuluhan kepada staf pengajar.
Kepala D.V.G. (Dienst van Gezondheidszorg / Dinas Kesehatan) memberikan bantuan dalam hal ini.Oleh karena orang tua sering kali menelantarkan anak-anak mereka, banyak kasus gizi buruk yang terjadi. Komisi kerja medis dari Kelompok Kontak tersebut menganggap penumbuhan rasa tanggung jawab di kalangan orang tua sebagai hal yang sangat penting. Sebagai solusi darurat, mereka memikirkan penerapan program pemberian makanan di sekolah.
Komisi Pendidikan mencatat bahwa titik terlemah dari sekolah-sekolah Zending, baik pada pendidikan dasar di desa maupun pendidikan lanjutan di atasnya, adalah masalah staf/personel. Mengenai hal yang pertama, sayangnya ini juga berlaku untuk wilayah zending kita.
De J.V.V.S. te Teminabuan (J.V.V.S. di Teminabuan)
Mengenai ketersediaan staf di sekolah ini, kesulitan-kesulitan yang ada telah berhasil diatasi dalam tahun laporan dan pada awal tahun 1955, sehingga saat ini kita memiliki staf pengajar yang lengkap. Pada bulan Mei 1954, Tuan Tj. Kobus kembali ke Belanda untuk selamanya. Kami mendapati Direktorat Dewan Zending N.H.K. di Oegstgeest bersedia untuk sementara waktu menugaskan Tuan D. van Beek guna menggantikan Saudara (br.) Kobus sebagai Kepala J.V.V.S. Dalam tahun laporan tersebut, Tuan A.B. Westerbaan mengikuti kursus Zending di Oegstgeest, dan setelah pengangkatannya sebagai pengajar di J.V.V.S., ia berangkat pada tanggal 31 Juli menuju tempat tujuannya. Kurang lebih pada waktu yang sama, Tuan T. van der Horst menyatakan kesediaannya untuk diutus sebagai calon Kepala J.V.V.S. di masa depan. Pada bulan September, pengajar ketiga untuk sekolah tersebut mendaftarkan diri, yaitu Tuan L. Brouwer. Mereka juga pergi ke Oegstgeest pada bulan Oktober untuk mempersiapkan diri bagi tugas mereka. (Pengangkatan mereka menyusul pada tahun 1955). Tuan dan Ny. Van der Horst harus meninggalkan dua anak di Belanda dan melakukan perjalanan pada tanggal 23 Februari 1955 bersama empat anak lainnya ke Nugini (New Guinea), yang kemudian disusul oleh Saudara Luitzen Brouwer pada tanggal 13 April.
Bagi sebagian besar anak laki-laki yang mengunjungi V.V.S., pendidikan ini merupakan persiapan untuk studi lebih lanjut. Dalam tahun laporan ini, ujian akhir telah dilaksanakan dan Kepala Sekolah, Tuan D. van Beek, memberi tahu kita ke mana para lulusan tersebut pergi. Sebelas orang di antaranya pergi ke O.V.V.O. di Fak-Fak; tiga siswa terbaik berangkat ke P.M.S.; tiga siswa lainnya pergi ke Sekolah Pertukangan (Vakschool) N.N.G.P.M. di Sorong dan satu orang ke rumah sakit milik Perusahaan tersebut; empat siswa mengikuti pelatihan mantri di Manokwari, satu orang ke Sorong-Doom, dan dua orang mengikuti pelatihan di Hollandia; dua orang mendapatkan tempat di pelatihan mantri pertanian (satu untuk pertanian dan satu untuk kehutanan); dan seorang siswa juga ditempatkan di Sekolah Pamong Praja (Bestuursschool), juga di Hollandia, sementara tiga siswa masuk ke Sekolah Teknik Rendah (Lagere Technische School) di Hollandia.
Terakhir, perlu disebutkan bahwa Pengurus telah memutuskan atas permintaannya sendiri untuk memindahkan Ds. Messie dari Inanwatan ke Steenkool/Tambuni. Kehadiran seorang Pendeta Zending di sana ternyata sangat mendesak, terutama mengingat adanya perpindahan besar-besaran tenaga kerja dari wilayah Inanwatan ke pusat minyak tersebut. (Ds. dan Ny. Messie telah berangkat ke tempat tugas baru mereka pada bulan Maret 1955.)
Pengurus juga memutuskan untuk mengizinkan Ds. dan Ny. Marcus datang ke Belanda dengan cuti pada bulan Mei 1955.
Sumbangan Luar Negeri (Bijdragen Buitenland)—tidak termasuk sumbangan untuk menutupi defisit tahun 1953—menunjukkan perkembangan yang baik dan mencapai total sebesar f 18.543,28, termasuk sumbangan dari Orphaned Mission Fund.
Berbagai barang, buku, dan produk dari aktivitas banyak lingkaran saudara (zusterkringen) telah dikirim ke Jawa.
Pengiriman serupa juga ditujukan ke Nugini (New Guinea), antara lain berupa peralatan untuk sekolah lanjutan (vervolgschool) yang merupakan hadiah dari Groningen, serta sebuah poros dan baling-baling baru untuk perahu motor kita.
Musyawarah persahabatan dengan Oegstgeest menghasilkan keputusan bahwa pembelian rumah zending di Inanwatan dibatalkan, sehingga uang yang dicadangkan untuk keperluan tersebut dapat dialihkan sebagian untuk mendanai rumah yang dibangun oleh Ds. Marcus di Teminabuan.
Menurut pertanggungjawaban dari Ds. Messie, sisa saldo per akhir tahun 1954 dari dana biaya lapangan yang ditransfer kepadanya namun belum digunakannya sebesar sekitar f 3.500,-- telah diserahkan kepada Ds. Marcus. Namun, rincian dari Ds. Marcus belum diterima sehubungan dengan perjalanan dinas (tournée) dan cuti dinasnya yang dipercepat. Dalam ikhtisar kami, total dana yang ditransfer dianggap telah dibelanjakan, sehingga setiap sisa kelebihan dana di Nugini per 31 Desember 1954 akan dibukukan dalam laporan tahunan 1955 kami.
Dari subsidi Van Deventer Maasstichting, berbagai pengadaan untuk Nugini telah dibiayai untuk kebutuhan sekolah, permainan, dan musik, dengan jumlah total sebesar f 1.295,78.


Posting Komentar