Bookmark

Memoar Pdt. Markus dari Teminabuan#38

222-224
Gambar Dari Keabadian hingga Amin oleh Pdt. Markus
Tahun 1954
222

Sebelum fajar menyingsing kami berangkat menuju Eles, dan tiba di sana menjelang malam. Dalam perjalanan Mieneke jatuh sakit sehingga saya harus meninggalkannya sementara. Di tengah perjalanan menuju Sasenek saya sendiri juga terserang penyakit dan akhirnya menginap di Sederofoyo. Malaria benar-benar melemahkan kami.

Agar tidak kehilangan waktu, keesokan paginya saya berangkat lebih awal ke Sasenek. Pada waktu yang telah ditentukan saya memimpin kebaktian baptisan bagi 42 orang. Karena kesalahpahaman, di Sasenek tidak ada roti untuk Perjamuan Kudus, sehingga upacara itu harus ditunda. Salah seorang pemuda berhasil berjalan kaki pulang-pergi ke Seribau dalam satu hari untuk mengambil perlengkapan yang kurang. Jaraknya sekitar 50 kilometer sekali jalan.

Sebelumnya saya sudah berada di Sasenek untuk mengadakan percakapan persiapan baptisan. Di sana saya mendapat peringatan dari seorang Natemakh dari Klan Sagesolo—yang juga mendaftarkan diri untuk dibaptis—agar tidak langsung percaya pada cerita para pemuda yang belum diinisiasi ketika mengumpulkan informasi tentang adat. Mereka belum memahami seluruh makna tradisi itu.

Tugas seorang Natemakh adalah menjadi pemimpin spiritual. Ia memimpin pesta dan ritual, serta memegang peranan penting dalam upacara inisiasi para pemuda. Ia memiliki penutup kepala khusus berupa mahkota dari bulu burung nuri, kakatua putih, cenderawasih, dan kasuari. Burung kasuari dianggap sebagai burung suci dewi kesuburan.

Rumah dan halaman miliknya dikelilingi tanaman Dracaena merah berdaun lebar, yang juga merupakan lambang dewi kesuburan. (Dalam masyarakat Moy disebut: Ru Komeang.) Seorang Natemakh tidak boleh membawa atau menggunakan senjata.

Pemimpin utama dalam kelompok itu adalah seorang kerabat bernama Gustaf Sagesolo, yang sebelumnya telah dibaptis di Sorong. Ia memegang jabatan turun-temurun. Ia mampu menghafal dan menyebutkan silsilah dua belas generasi leluhur, baik dari garis laki-laki maupun perempuan.

Kemampuan mengucapkan silsilah itu menjadi bukti sah atas haknya menjalankan jabatan tersebut, sekaligus menentukan batas tanah milik klannya. Ia bertugas mengajarkan semua itu kepada generasi muda.

Karena kebanyakan pemuda dari keluarga terpandang menikah pada usia sekitar 20 tahun, mereka masih mampu memperkirakan bahwa masa penyerbuan kelompok Sagesolo dan kerabatnya ke wilayah Mey Sawit terjadi sekitar tahun 1720. Mereka juga dipercaya berasal dari Pulau Onin. (Catatan: Dr. P.H.W. Haanen dalam penelitiannya tentang suku Moi juga menemukan penanggalan sejarah yang serupa.)

Kelompok klan yang sama juga mencakup keluarga Saflafo. Salah seorang anggota menceritakan mitos asal-usul mereka:

Pada suatu hari, salah seorang leluhur mereka menemukan batang kayu hanyut di pantai. Ia mendengar suara dengung keras dan mengira ada lebah liar bersarang di dalamnya. Saat berusaha mengambil madu, seekor lebah menyengat kepalanya dengan keras hingga batang kayu itu terbelah. Para tetua klan kemudian datang dan menyatakan bahwa kejadian itu menjadi pertanda bagi leluhur Klan Saflafo. Sengatan lebah tersebut menyebabkan luka di kepala, dan karena itu semua keturunan laki-laki mereka mengalami kebotakan sejak usia muda.

Beberapa hari kemudian, kepala klan muda dari Eles menjelaskan kepada saya tentang upacara inisiasi. Para anak laki-laki dibawa oleh seorang tetua yang telah diinisiasi ke sebuah rumah khusus di dalam hutan. Setiap anak ditempatkan di bawah pengawasan seorang pendamping pribadi. Selama masa itu mereka dipisahkan dari semua perempuan, bahkan dari ibu kandung mereka sendiri.


223

Selama berbulan-bulan para anak laki-laki tinggal pada siang hari di rumah khusus itu dan mempelajari semua hal yang harus diketahui oleh seorang anggota dewasa masyarakat. Mereka hanya diperbolehkan keluar pada malam hari dan tidak boleh mandi.

Setelah beberapa bulan, mereka harus merangkak melewati sebuah lorong sempit yang dibuat dari anyaman ranting. Mereka kemudian dibawa ke tempat tinggal para paman dari pihak ibu. Di sana mereka dimandikan dan diajarkan batas-batas wilayah klan mereka.

Sesudah itu, dalam sebuah pesta adat, mereka dikembalikan kepada orang tua kandung mereka. Mulai saat itu mereka dianggap “lahir kembali” sebagai anggota klan yang dewasa dan penuh.

Pencerita kisah ini, Petrus Jarolo, saya temui lagi pada tahun 1987 di luar Sorong. Di sana para anggota klannya memiliki permukiman sendiri bagi mereka yang bekerja di Pertamina. Dengan sangat terharu ia memeluk saya dan Mieneke.

Kami tinggal di daerah itu sampai tanggal 11 untuk melakukan inspeksi, lalu melanjutkan perjalanan ke Mefkhajim. Para guru baru ternyata tidak jauh lebih baik daripada “orang Ambon lama” maupun para penginjil terbaik. Pengetahuan teologi mereka juga masih terbatas. Secara liturgi dan tata ibadah mereka memang terlatih dengan baik, tetapi pemahaman mendalam tentang Perjanjian Baru masih kurang.

Rekan mereka di Mefkhajim juga termasuk kelompok yang sama. Ia cukup keras kepala dan tidak mau menerima nasihat dari saya, baik dalam hal pendidikan maupun urusan gereja. Namun ia sangat rajin, dan masyarakat menyukainya, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Sekali lagi saya harus menyelesaikan urusan administrasi dengan bendahara—dalam hal ini kepala administrasi—lalu segera menuju Kambuaya. Di sana semuanya berjalan baik. Guru Rumbiak sudah mampu berbicara dengan masyarakat dalam bahasa mereka sendiri, bahkan kadang-kadang menjelaskan bagian Alkitab dalam bahasa lokal. Saya menghadiri kebaktian yang dipimpinnya dan melihat bahwa jemaat mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Jumlah penduduk terus bertambah dan sekolah memperoleh semakin banyak murid. Ia membutuhkan seorang guru pembantu, sebab saat ini sudah ada sekitar 80 murid dan diperkirakan segera bertambah 40 lagi, sebagian besar perempuan. Itu pertanda yang baik.

Sisa hari Minggu dipakai untuk urusan klasis, yang dipimpinnya sebagai ketua. Jonathan Deda akan menggantikan salah satu guru tua yang kurang berhasil. Kepala baru JVVS sudah mengenalnya dan menaruh harapan besar padanya—dan ternyata harapan itu terbukti benar. Kami juga bertemu lagi dengannya pada tahun 1980-an.

Bersama Guru Rumbiak saya membuat sebuah laporan umum. Sekolah-sekolah di daerah pantai rata-rata memiliki 65 murid per sekolah dengan 45 murid per guru. Di daerah pegunungan jumlahnya mencapai 52 murid per guru, dan ada tiga sekolah satu guru dengan 80–100 murid. Saya merasa perlu kembali menyampaikan hal ini kepada Kepala Umum Pendidikan.

Setelah menyelesaikan beberapa surat dan administrasi, keesokan harinya kami berangkat ke utara. Hujan turun sangat deras, dan menurut para “Bobot” konservatif di sekitar danau, menyeberang ke pantai utara dalam cuaca seperti itu sangat berbahaya. Kami baru tiba di Karet Tumpun menjelang malam dan bermalam di sana.

Keesokan harinya kami bertemu para pembawa pesan dari Sea. Hari itu kami sampai di Arne sambil berbincang dengan penduduk desa-desa lain di pantai utara. Namun untuk sementara belum ada tindakan lebih lanjut yang bisa dilakukan di sana.


224

Hanya sedikit orang yang benar-benar tertarik pada kemajuan. Mereka biasanya menandatangani kontrak dengan NN GPM atau pindah ke pantai selatan, tempat pertukaran perempuan dalam perkawinan masih sering terjadi.

Orang-orang memang sering meminta sekolah, tetapi permintaan itu lebih merupakan ungkapan sopan santun, seperti janji saya: “Saya akan melihat apa yang bisa saya lakukan untuk kalian.” Mereka sebenarnya tahu syarat-syarat yang diperlukan: rumah yang layak untuk guru dan gedung sekolah dengan perabot yang memadai. Namun mereka tidak benar-benar berniat memenuhi syarat tersebut. Karena itu saya harus bermalam di Arne, sebab perjalanan berikutnya cukup sulit, sekaligus untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan penduduk setempat.

Keesokan harinya kami tiba di Rinis. Jaraknya “hanya” 13,3 km, tetapi terasa hampir dua kali lipat. Orang Tionghoa dahulu memakai satuan “Li”, yakni jarak yang dapat ditempuh seseorang dalam satu jam berjalan kaki. Jika ingatan saya benar, ukuran itu cocok diterapkan untuk rute Kambuaya–Sea, karena tingkat kesulitannya hampir sama.

Begitu kami tiba dan berganti pakaian, Nyora mulai mengeluh lagi. Menurutnya, orang-orang di sini tidak menyenangkan; mereka bukan “manusia sejati”. Dalam arti lain: mereka bukan berasal dari kelompok atau wilayah budaya mereka sendiri. Pandangan ini tampaknya merupakan sisa kepercayaan totemisme lama. Orang asing dianggap berbeda asal-usulnya—mungkin berasal dari hewan, pohon, atau burung lain—sehingga dipandang sebagai ancaman atau musuh potensial.

Karena masyarakat mulai menjalin hubungan ekonomi dan perkawinan dengan orang Kain Timor, sebenarnya keamanan sosial mereka semakin terjamin. Namun perempuan ini tetap merasa takut dan tidak cocok hidup di pedalaman. Saya kemudian menyarankan suaminya agar pindah ke daerah pantai.

Suaminya sendiri sebenarnya juga kurang cocok untuk pekerjaan ini. Ia kecewa karena tidak segera diangkat menjadi “blokhoofd” (kepala wilayah). Walaupun berniat baik, pola pikirnya masih mengikuti pandangan “orang Ambon lama”. Mereka menganggap Pasal XII Pengakuan Iman, Doa Bapa Kami, dan Sepuluh Perintah Allah sudah cukup untuk menerima seseorang sebagai anggota jemaat penuh.

Saya teringat pada Simson Blis, anak seorang natemakh. Ia pernah ditolak oleh seorang guru Ambon untuk diteguhkan sebagai anggota jemaat karena kadang salah mengucapkan urutan ajaran. Ketika guru itu menerapkan bagian “Kasihilah sesamamu…” secara berlebihan dan tidak bijaksana, saya merasa perlu campur tangan.

Sang penginjil tidak setuju dengan pandangan saya. Ia mulai menceritakan sejarah misi panjang lebar. Penduduk Kaibus, Waromgai, dan Metamani memang telah dibaptis massal, kemungkinan besar karena tekanan dari pemerintah Binnenlands Bestuur (BB). Saya bahkan bisa menyebut seorang kontrolir BB yang berjasa besar. Saat kami pertama kali berkenalan, ia dengan ragu bertanya apakah saya keberatan jika ia meminta penduduk menghadiri kebaktian. Di wilayah tugas sebelumnya, itu sudah menjadi kebiasaan umum. Ia tampak lega ketika saya menjelaskan bahwa kaum Mennonit sudah mempraktikkan pemisahan gereja dan negara selama lebih dari 400 tahun, sehingga saya tidak menginginkan paksaan semacam itu.

Salah satu alasan yang tampaknya cukup masuk akal mengapa baptisan massal sulit dilakukan adalah posisi sosial seseorang. Setelah dibaptis, seseorang bisa terisolasi dari kelompok sosial tempat ia dibesarkan dan hidup sejak kecil.

Posting Komentar

Posting Komentar